Darilaut – Perjalanan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami perubahan besar pada 22 Desember 2018. Sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.
Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.
Keruntuhan tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.
Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas berubah cepat dari erupsi Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif. Interaksi kembali antara magma dan air laut juga membentuk ulang morfologi kawah Anak Krakatau.
“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar,” kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9).
Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya.”

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase yang disebut sebagai rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.




