Pola Sebaran Partikel Halus PM2.5  Akibat Kebakaran Hutan Indonesia di Asia Tenggara

Visualisasi didasarkan pada data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) dan dibuat menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch, memperlihatkan sebaran asap di wilayah Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya pada tanggal 25 Agustus 2026. Area berwarna ungu lebih pekat menunjukkan lokasi dengan konsentrasi asap yang lebih tinggi di atmosfer. GAMBAR: European Union, Copernicus Atmosphere Monitoring Service Data

Darilaut – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada 2026 telah melintasi batas negara dan memengaruhi sejumlah wilayah di Asia Tenggara. Hasil simulasi penyebaran partikel halus PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia memungkinkan terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ardhi Adhary Arbain, mengatakan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara.

”Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Ardhi, Jumat (2/10).

Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.

Dalam penelitian ini, data emisi kebakaran juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh, antara lain dari Sentinel dan MODIS/VIIRS, untuk membangun inventori emisi PM2.5. 

Menurut Ardhi hasil simulasi awal memperlihatkan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak. Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator.

“Pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand,” ujar Ardhi seperti dikutip dari Brin.go.id. 

Simulasi juga memperlihatkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi di sejumlah wilayah sumber, terutama Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di beberapa lokasi dekat sumber kebakaran, konsentrasi hasil simulasi bahkan mencapai lebih dari 7.500 mikrogram per meter kubik, sementara pada titik tertentu nilai maksimum simulasi pada akhir Agustus mencapai lebih dari 12.000 mikrogram per meter kubik. 

Ketika dibandingkan dengan Agustus 2015, sebaran PM2.5 pada 2026 dalam simulasi terlihat lebih terlokalisasi, tetapi konsentrasi di sejumlah titik sumber diperkirakan lebih tinggi. Terdapat pula indikasi penambahan kontribusi sumber polutan, yaitu Papua Selatan yang terlihat lebih dominan dibandingkan 2015. 

Ardhi mengatakan bahwa hasil tersebut masih merupakan hasil penelitian yang sedang dikembangkan dan belum divalidasi. Artinya, hasil simulasi belum dibandingkan secara menyeluruh dengan data pengamatan lapangan untuk mengetahui tingkat akurasi model.

Karena itu, angka dan pola sebaran yang dipaparkan belum dapat diperlakukan sebagai ukuran kualitas udara aktual di setiap lokasi. 

Ke depan, tim peneliti juga mengembangkan pendekatan pemodelan lain untuk meningkatkan efisiensi simulasi. Salah satunya menggunakan model kimia CHIMERE secara offline, sehingga proses meteorologi dan kimia dapat dijalankan secara terpisah dan lebih fleksibel.

Visualisasi Copernicus

Kebakaran dahsyat melanda sebagian wilayah Indonesia akibat kondisi kering yang berkepanjangan.

Copernicus, komponen Pengamatan Bumi dalam program antariksa Uni Eropa bertujuan memantau lingkungan, menampilkan sebaran asap kebakaran di Sumatra bagian selatan dan Pulau Kalimantan.

Asap telah menyebar ke wilayah sekitarnya di Asia Tenggara, termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Penurunan kualitas udara menyebabkan penutupan sekolah.

Visualisasi didasarkan pada data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) dan dibuat menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch yang baru saja diluncurkan.

Melalui visualisasi ini memperlihatkan sebaran asap di wilayah Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya pada tanggal 25 Agustus 2026.

Area berwarna ungu lebih pekat menunjukkan lokasi dengan konsentrasi asap yang lebih tinggi di atmosfer.

Sebaran asap yang ditampilkan CAMS juga mencakup sejumlah wilayah di Papua.

CAMS menyediakan pemantauan dan prakiraan kualitas udara serta komposisi atmosfer—termasuk pergerakan asap akibat kebakaran—yang mendekati waktu nyata (near-real-time).

Data ini mendukung penyusunan imbauan kesehatan masyarakat, pengambilan keputusan terkait penutupan sekolah dan tempat kerja, serta penilaian paparan penduduk terhadap partikulat halus.

Partikel Halus PM2.5

Pemantauan PM2.5 (Particulate Matter atau konsentrasi partikulat) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer). Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan konsentrasi partikulat pada Sabtu 12 september pukul 09.00 kualitas udara kategori berbahaya di Kubu Raya 739,7 dan Palangkaraya 290,6.

PM2.5 kategori tidak sehat di Sintang 141,6, Muaro Jambi 106,8, Kota Jambi 101,3, Talang Betutu Palembang 100,8, dan Musi 2 Palembang.

Berdasarkan pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada 10 September 2026 pukul 10.00 WIB, asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas.

Pontianak tercatat memiliki jarak pandang sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap, Palangka Raya sekitar 3 kilometer berasap, dan Jambi sekitar 2 kilometer berasap. Sementara itu, Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar 6 kilometer dengan kondisi cerah berawan dan Palembang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.

Di Banjarmasin, pengamatan pukul 11.00 WITA menunjukkan jarak pandang 10 kilometer atau lebih dengan kondisi cerah berawan.

Kondisi di Pontianak dan Palangka Raya masih perlu menjadi perhatian karena jarak pandang terpantau terbatas dan disertai kondisi berasap. Namun, jarak pandang bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran di lapangan.

Exit mobile version