Politeknik Negeri Manado Fasilitasi Daur Ulang Sampah Plastik di Wisata Mangrove Park Darunu

Darunu Mangrove Park di Desa Darunu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. FOTO: RRI MANADO/RRI

Darilaut – Pengelolaan pariwisata berkelanjutan saat ini sedang dikembangkan di pesisir Desa Darunu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.  

Selain melakukan pendampingan, Politeknik Negeri Manado juga memfasilitasi daur ulang (recycle) sampah plastik dari lokasi wisata Mangrove Park Darunu.

Hal ini dikatakan Direktur Politeknik Negeri Manado, Dra. Maryke Alelo, MBA, saat dialog RRI Manado dengan tema ”Eco Populism: Dalam Pengembangan Pariwisata”, pada Rabu (3/9).

Kegiatan yang berlangsung dari lokasi di pesisir Desa Darunu dihadiri, antara lain, Dosen Politeknik Negeri Manado Danny Oroh, serta sejumlah mahasiswa Program Studi Ekowisata Bawah Laut.

Maryke mengatakan, untuk botol plastik air mineral sebaiknya menggunakan galon atau botol besar yang biasa digunakan sebagai tempat untuk menyimpan air mineral isi ulang.

Pengunjung membawa tumbler atau wadah air minum berbentuk seperti gelas tanpa gagang dan dapat mengisi dari galon tersebut.

Untuk sampah plastik yang ada, dikumpulkan dan Politeknik Negeri Manado akan melakukan daur ulang, kata Maryke.

Melansir RRI Manado, dengan kekayaan hutan mangrove yang terjaga, keramahan warga, dan pengelolaan wisata berbasis masyarakat, Desa Darunu terus meneguhkan diri sebagai destinasi ekowisata unggulan di Minahasa Utara.

Tidak hanya menawarkan panorama alam yang memikat, desa ini juga membuka peluang ekonomi sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.

Maryke menjelaskan bahwa pendampingan dilakukan melalui program penelitian, pengabdian masyarakat, dan pendidikan berbasis proyek (project based).

Pendanaan awal kami alokasikan dari penelitian dan pengabdian. Hasil riset akan dihilirisasikan menjadi produk yang bisa diterapkan, sementara dosen dan mahasiswa terlibat langsung melalui kurikulum pendidikan, kata Maryke.

Meski begitu, pengembangan wisata tidak lepas dari tantangan. Maryke menyoroti keinginan sebagian warga yang ingin cepat meraih keuntungan tanpa memperhatikan dampak lingkungan, seperti membangun pondok jualan tanpa fasilitas cuci tangan yang layak atau toilet dengan sistem pembuangan yang mencemari laut.

Untuk mengatasi hal ini, Politeknik Negeri Manado terus memberikan pelatihan yang dirancang agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Jika pelatihan pertama berhasil diterapkan, menurut Maryke, akan ada pelatihan lanjutan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat.

Dosen dan mahasiswa Program Studi Ekowisata Bawah Laut Politeknik Negeri Manado saat berada di Desa Darunu, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. FOTO: KOLEKSI POLITEKNIK NEGERI MANADO

Mangrove Park

Mangrove Park Darunu menjadi daya tarik utama pengunjung. Wisatawan dapat menjelajahi hutan mangrove dengan paddle board, menikmati panorama Pulau Manado Tua, Bunaken, dan Siladen, dan juga dapat menyaksikan keindahan matahari tenggelam di ufuk barat.

Hukum Tua Desa Darunu, Ruddy Bee Jee Jacobus mengatakan wisata mangrove yang dikembangkan di Desa Darunu sudah berjalan dua tahun lebih.

Di pesisir terdapat wisata Mangrove Park Darunu, sementara di laut terdapat spot penyelaman. Warga setempat juga telah mengembangan pondok wisata bagi pengunjung.

Ruddy menjelaskan meningkatnya jumlah kunjungan wisata membawa dampak positif bagi perekonomian desa.

Srtelah pengembangan wisata tersebut, mulai terlihat peningkatan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dan pendapatan nelayan. Wisatawan luar negeri dan lokal, turut memberi kontribusi ekonomi saat berkunjung atau menyelam di sekitar pulau.

Untuk keberlanjutan, ”kami harus konsisten menjaga komitmen bersama, berkolaborasi dengan pemerintah, lembaga, dan masyarakat dalam menjaga keamanan serta kebersihan lingkungan,” ujar Ruddy, seperti dikutip dari RRI Manado.

Exit mobile version