Potensi Cuaca Ekstrem Masih Terjadi Di Wilayah Indonesia

Siklon Tropis Taliah meningkat menjadi kategori 3 di Samudra Hindia, pada Selasa (4/2). GAMBAR: ZOOM.EARTH

Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

Menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG saat ini, dinamika atmosfer di sebagian besar wilayah Indonesia dipengaruhi oleh beberapa sistem tekanan rendah yang aktif di Belahan Bumi Utara (BBU) dan Belahan Bumi Selatan (BBS).

Sistem tekanan rendah yang terdapat di Belahan Bumi Utara adalah Bibit Siklon 92W, yang terdeteksi di Samudra Pasifik Barat, utara Papua Barat, bergerak ke arah Barat – Barat Laut dengan kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot (37 km/jam).

Kondisi ini dapat memberikan pengaruh tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang – lebat di wilayah Maluku Utara, Papua Barat Daya dan Pesisir utara Papua.

Sementara itu,  di Belahan Bumi Selatan masih terpantau Siklon Tropis Taliah yang berada di Samudra Hindia dengan kecepatan 50 knot (95.6 km/jam).

Kondisi turut memberikan dampak tidak langsung terhadap terjadinya hujan dengan intensitas sedang yang dapat disertai angin kencang di wilayah Pesisir selatan Bengkulu, Lampung, Banten hingga Jawa Barat.

Menurut Direktorat Meteorologi Publik, selain kedua sistem tekanan rendah tersebut, sirkulasi siklonik juga terpantau di utara Kalimantan dan Teluk Carpentaria, yang memicu peningkatan aktivitas konvektif di wilayah sekitarnya.

Sirkulasi ini berkontribusi terhadap terbentuknya pola belokan angin yang dapat meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah selatan Indonesia, terutama Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua bagian selatan.

Selain sistem tekanan rendah, kondisi atmosfer di Indonesia dalam sepekan ke depan juga dipengaruhi oleh aktifnya gelombang equatorial Rossby dan gelombang Kelvin.

Fenomena Gelombang Kelvin diprediksi aktif di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, utara Kalimantan, Kalimantan bagian Selatan, dan Sulawesi bagian tengah.

Sementara itu, Gelombang Ekuatorial Rossby diprediksi aktif di Laut Cina Selatan utara Kalimantan, Samudra Pasifik utara Sulawesi hingga Papua Papua Barat, dan Papua yang berkontribusi terhadap peningkatan potensi pembentukan awan konvektif dan curah hujan di wilayah tersebut.

Berdasarkan analisa prognosis Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Siklon Tropis Taliah bergerak ke arah Barat – Barat Daya dan menjauhi wilayah Indonesia.

Namun dalam seminggu ke depan, BMKG masih memantau berbagai fenomena atmosfer yang diperkirakan mempengaruhi peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia. Angin Monsun Asia juga  masih menjadi faktor utama penyebab terjadinya hujan di wilayah Indonesia.

Faktor lainnya, yaitu fenomena La Nina lemah, terpantaunya Bibit Siklon Tropis 92W dan gelombang atmosfer mendukung peningkatan dalam potensi terjadinya hujan signifikan di beberapa wilayah Indonesia.

MJO diprediksi berada pada fase 6 hingga sepekan kedepan yang tidak memberikan pengaruh terhadap dinamika atmosfer di wilayah Indonesia.

Meskipun demikian, fenomena MJO secara spasial masih bertahan di Samudra Hindia Selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Oleh sebab itu, daerah-daerah tersebut masih cukup tinggi potensi cuaca signifikan. Selain itu,  Fenomena Gelombang Rossby Ekuator terpantau aktif di Laut Cina Selatan utara Kalimantan, Samudra Pasifik utara Sulawesi hingga Papua Papua Barat, dan Papua.

Sedangkan, Gelombang Kelvin terpantau aktif di  Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, utara Kalimantan, Kalimantan bagian Selatan, dan Sulawesi bagian tengah.

Analisis OLR juga menunjukkan nilai negatif pada 9-11 Februari 2025, yang mengindikasikan semakin signifikannya potensi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. Selain itu, sirkulasi siklonik terpantau di Australia Bagian Utara, Selat Malaka bagian timur Aceh, Samudera Hindia sebelah barat Aceh, dan Laut Sulu, yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang di Pesisir Utara Australia Bagian Utara, Teluk Carpentaria, Laut Arafuru, laut Timor bagian selatan, Aceh, dan Kalimantan Utara.

Daerah konvergensi lain memanjang di Bali hingga Nusa tenggara Timur di Sulawesi bagian Tengah, Laut Jawa, Kalimantan Utara, Selat Makassar bagian selatan, Papua bagian tengah, dan Papua Pegunungan. Daerah pertemuan angin (konfluensi) terpantau di Laut Cina Selatan, pesisir barat Bengkulu hingga Lampung, di Samudra Hindia selatan Bali, Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda, dan Laut Arafura.

Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan ketinggian gelombang laut di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

Berdasarkan analisis kondisi lokal/mikro menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif akibat kondisi labilitas yang kuat di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan dan Papua Selatan.

PROSPEK CUACA SEPEKAN KE DEPAN

Exit mobile version