Darilaut – Profesor Riset dari Pusat Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Muhammad Reza Cordova, mengatakan, selain ditemukan di permukaan laut, mikroplastik juga ditemukan hingga laut dalam.
Prof. Reza menyoroti pengaruh proses oseanografi terhadap distribusi mikroplastik di laut. Arus laut, musim, suhu, salinitas, serta pola sirkulasi perairan memengaruhi pergerakan dan penumpukan mikroplastik.
Di Indonesia, kata Prof. Reza, perubahan musim barat dan musim timur menyebabkan perpindahan lokasi akumulasi mikroplastik secara berkala.
Sementara wilayah perairan tertutup seperti teluk dan estuari cenderung menjadi hotspot penumpukan mikroplastik karena sirkulasi airnya lebih lambat.
Menurut Prof. Reza, partikel mikroplastik dapat mengalami proses pengendapan dan terbawa ke dasar laut melalui agregasi dengan partikel organik maupun proses biologis lainnya.
Akibatnya, laut dalam menjadi tempat akumulasi jangka panjang yang sangat sulit dipulihkan dari pencemaran mikroplastik, kata Prof. Reza.
Dampak mikroplastik terhadap organisme laut juga dinilai sangat kompleks. Mikroplastik dapat masuk ke tubuh organisme melalui makanan maupun proses penyaringan air.
Partikel tersebut dapat menyebabkan gangguan fisik seperti penyumbatan saluran pencernaan dan rasa kenyang palsu.
Prof. Reza menekankan bahwa penanganan mikroplastik perlu dilakukan secara sistematis dan terintegrasi. Pengurangan penggunaan plastik, pengelolaan sampah yang lebih baik, penguatan penelitian, serta kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting yang perlu dilakukan bersama.
Prof. Reza mengatakan laut yang bersih bukan hanya penting bagi kehidupan saat ini, tetapi juga merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
“Mikroplastik bukan lagi sekadar sampah plastik berukuran kecil, melainkan pencemar yang telah menyebar ke daratan, laut, udara, hingga masuk ke rantai makanan manusia,” kata Prof. Reza, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Dalam Webinar ISOI ke-1 pada Sabtu (9/5), Prof. Reza membawakan materi dengan tema “Lautan Plastik: Ancaman Mikroplastik Terhadap Biodiversitas dan Lingkungan Laut serta Keamanan Rantai Makanan”.
Pada 2022, produksi plastik dunia mencapai sekitar 460 juta ton dan terus bertambah pada tahun berikutnya.
Namun, sebagian besar limbah plastik tersebut belum dikelola secara optimal sehingga banyak yang berakhir di lingkungan perairan.
