Puisi “Nelayan Sangihe” Karya J.E. Tatengkeng

Dr. Gybert E. Mamuaya. FOTO: KOLEKSI PRIBADI

Oleh : Dr. Gybert E. Mamuaya (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi 1977-2018, Ketua Local Project Implementation Unit – Marine Science Education Project (LPIU – MSEP) Unsrat 1988-1993)

Puisi “Nelayan Sangihe” karya J.E. Tatengkeng yang ditulis pada tahun 1934 masih sangat relevan hingga saat ini, terutama jika kita menafsirkannya dalam konteks kehidupan modern.

Puisi ini menggambarkan seorang nelayan yang berada di tengah laut pada malam hari, menunggu ikan, namun pikirannya tampaknya tidak sepenuhnya terfokus pada pekerjaannya.

Merenung dalam Kesendirian Modern

Pada bait awal, Tatengkeng melukiskan suasana malam yang indah di laut dengan bintang, bulan, dan embun. Namun, di tengah keindahan ini, sang nelayan justru *termenung* dan *melamun*.

Dalam konteks kontemporer, ini bisa diartikan sebagai cerminan kondisi banyak individu di era modern yang, meskipun dikelilingi oleh hiruk pikuk dan kemudahan, seringkali merasa sendirian dan terjebak dalam pikiran mereka sendiri.

Keheningan malam di laut bisa disamakan dengan kesendirian di tengah keramaian kota, di mana seseorang mungkin sibuk secara fisik tetapi kosong secara batin.

“Setitik Api” dan Kerinduan akan Koneksi

Pertanyaan-pertanyaan “Mengapa termenung, Apatah direnung?” dan “Mengapa kaupandang ke kaki gunung?” menunjukkan adanya sesuatu yang mengganggu pikiran nelayan. “Setitik api” yang dilihatnya di kejauhan adalah simbol harapan atau kerinduan yang sangat kuat.

Dalam konteks modern, “setitik api” ini bisa diinterpretasikan sebagai:

Harapan akan masa depan yang lebih baik: Seperti nelayan yang merindukan hasil tangkapan, banyak orang saat ini merindukan kondisi hidup yang lebih stabil, pekerjaan yang lebih baik, atau kebebasan finansial.

Kerinduan akan rumah dan keluarga: Di dunia yang semakin mobile dan terglobalisasi, banyak individu bekerja jauh dari rumah dan keluarga. “Setitik api” tersebut dapat menjadi representasi kerinduan akan kehangatan rumah tangga dan orang-orang terkasih.

Pencarian makna dan tujuan: Di tengah kesibukan hidup modern, banyak orang merasa hampa dan mencari “api” yang bisa memberikan makna dan tujuan bagi hidup mereka. Ini bisa berupa passion, hobi, atau bahkan pencarian spiritual.

“Tali” Tak Terlihat: Koneksi Emosional yang Abadi

Bagian paling menyentuh dan paling relevan secara kontemporer adalah penemuan “tali, Yang tak terpandang oleh mata, Menghubung hati.” Ini adalah inti dari puisi ini. “Tali” ini melambangkan ikatan emosional yang kuat, baik itu cinta, kasih sayang, atau persahabatan, yang menghubungkan seseorang dengan orang lain meskipun terpisah jarak.

Dalam dunia yang semakin digital dan terhubung secara virtual, “tali” ini bisa berupa:

Hubungan keluarga dan persahabatan: Meskipun terpisah oleh jarak geografis, teknologi memungkinkan kita untuk tetap terhubung secara emosional.

Ikatan komunitas: Dalam masyarakat yang semakin individualistis, “tali” ini bisa mewakili pentingnya memiliki rasa memiliki terhadap sebuah komunitas atau kelompok.

Kecintaan terhadap profesi atau panggilan hidup: Bagi sebagian orang, “tali” ini bisa berupa dedikasi dan kecintaan yang mendalam terhadap pekerjaan atau panggilan hidup mereka, seperti nelayan yang mencintai lautnya.

Secara keseluruhan, “Nelayan Sangihe” adalah sebuah ode tentang kerinduan, harapan, dan kekuatan ikatan emosional yang tak terlihat, bahkan di tengah kesendirian dan ketidakpastian.

Maknanya tetap lestari, mengingatkan kita bahwa di balik setiap kesibukan dan perjuangan hidup, seringkali ada kerinduan akan koneksi yang mendalam dan harapan akan “setitik api” yang dapat menghangatkan hati.

Nelayan Sangihe

(J.E. Tatengkeng 1934)

Dilengkungi langit berhias bintang,

Caya bulan di ombak menitik,

Embun berdikit turun merintik,

Engkau menantikan ikan datang.

Mengapa termenung,

Apatah direnung?

Mengapa lagumu tersayup-sayup,

Mengapa mata sesekali kaututup?

Ah, mengapa termenung

Mengapa kaupandang ke kaki gunung?

O, kumengerti,

Kulihat di sana setitik api!

Itukah menarik matamu ke tepi,

Mengharu hati?

O, kulihat tali,

Yang tak terpandang oleh mata,

Menghubung hati,

Kalbu nelayan di laut bercinta …

[Sumber: RINDU DENDAM 1934]

Exit mobile version