Darilaut – Untuk mengjangkau warga terisolasi di Kabupaten Aceh Tamiang tim relawan kesehatan menempuh jalan berlumpur dan sungai yang meluap.
Seperti menuju Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, menjadi tantangan tersendiri bagi tim relawan kesehatan. Untuk mencapai wilayah tersebut, relawan harus menempuh perjalanan berjam-jam melewati jalan berlumpur di area perkebunan sawit, daerah rawan longsor, hingga menyeberangi sungai yang kerap meluap saat hujan dengan menggunakan getek.
Salah satu perawat Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK), A. Jaeni, mengatakan medan ekstrem tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap hadir memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak banjir.
“Perjalanan cukup berat dan berisiko, namun itu menjadi bagian dari tanggung jawab kami untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan kesehatan,” ujar Jaeni seperti dikutip dari Kemkes.go.id.
Di lokasi, relawan membuka posko kesehatan serta melakukan kunjungan langsung ke rumah warga yang tidak mampu menjangkau fasilitas layanan kesehatan. Upaya ini sangat membantu masyarakat yang selama ini terkendala transportasi dan akses wilayah.
Kepala Dusun Sekumur, Syamsul Bahri, mengatakan dengan adanya relawan di sini, masyarakat bisa langsung berobat tanpa harus menempuh perjalanan jauh dan menyeberang sungai.
Desa Terisolasi
Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang berdampak serius terhadap layanan kesehatan masyarakat, khususnya di Desa Sekumur. Fasilitas kesehatan tingkat desa dilaporkan belum dapat beroperasi secara normal akibat kerusakan bangunan dan hilangnya alat-alat kesehatan.
Bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sekumur, Siti Aisyah, menyampaikan kondisi pascabanjir membuat pelayanan kesehatan tidak dapat dilakukan seperti sedia kala.
“Ruangan pelayanan belum bisa digunakan sepenuhnya, alat-alat kesehatan banyak yang hanyut, termasuk tempat tidur pasien, oksigen, dan infus. Kami sangat berharap ada perhatian agar pelayanan kesehatan bisa kembali berjalan,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan menurunkan tim relawan tenaga cadangan kesehatan batch II untuk memperkuat respons krisis kesehatan di wilayah terdampak, termasuk desa-desa dengan akses terbatas.
Tim relawan melakukan pelayanan kesehatan di posko serta menjangkau langsung masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat keterbatasan transportasi dan kondisi geografis.
Selain pelayanan medis, tim juga berkoordinasi dengan tenaga kesehatan setempat untuk mendukung pemulihan layanan kesehatan dasar.
Kementerian Kesehatan memastikan penanganan krisis kesehatan pascabencana dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan hingga fasilitas kesehatan kembali pulih dan masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan secara optimal.
