Resveratrol, Senyawa Alami Tanaman yang Berpotensi Jadi Terapi Baru Penyakit Jantung

GAMBAR: The Egyptian Heart Journal

Darilaut – Penyakit jantung genetik sindrom brugada (Brugada syndrome) dikenal sebagai salah satu penyebab kematian mendadak di usia produktif. Penyakit ini berpeluang memiliki terapi baru di masa depan.

Kajian ilmiah terbaru tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap bahwa resveratrol, senyawa alami yang terdapat pada beberapa tanaman, berpotensi mendukung terapi gen untuk menangani penyakit tersebut.

Tim masing-masing Andin Zahrani Pateda, Andi Alika Azzahra, Kuni Zakiyyah Sumargo, dan Muchtar Nora Ismail Siregar telah memublikasikan hasil penelitian ini di The Egyptian Heart Journal.

Sindrom brugada merupakan gangguan irama jantung akibat kelainan genetik, terutama mutasi pada gen SCN5A yang mengatur aliran listrik jantung.

Melansir fk.ung.ac.id penyakit ini sering tidak bergejala dan kerap baru terdeteksi setelah terjadi henti jantung mendadak.

Kawasan Asia Tenggara tercatat sebagai salah satu wilayah dengan angka kejadian tertinggi.

Selama ini, penanganan sindrom brugada masih mengandalkan pemasangan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Alat ini bekerja memberikan kejut listrik saat terjadi gangguan irama jantung, namun tidak memperbaiki penyebab utama penyakit yang bersifat genetik.

Selain itu, ICD juga memiliki risiko efek samping seperti infeksi dan kejut listrik yang tidak diperlukan.

Dalam kajian tersebut, para peneliti menelaah berbagai studi internasional terkait penggunaan terapi gen berbasis adeno-associated virus (AAV) untuk memperbaiki fungsi gen SCN5A.

Hasilnya menunjukkan bahwa resveratrol dapat berperan sebagai pendukung terapi gen dengan cara menurunkan peradangan, mengurangi stres oksidatif, dan membantu stabilitas sel jantung.

Resveratrol juga diketahui mampu membantu menstabilkan irama jantung serta menciptakan lingkungan sel yang lebih optimal agar terapi gen bekerja lebih efektif. Pendekatan ini dinilai lebih menjanjikan karena berupaya mengatasi akar masalah penyakit, bukan hanya mencegah akibatnya.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum dapat langsung diterapkan secara klinis.

Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan keamanan, dosis yang tepat, serta efektivitas resveratrol sebagai bagian dari terapi gen pada manusia.

Kajian ini menjadi sinyal penting bagi dunia medis bahwa terapi penyakit jantung genetik ke depan tidak lagi hanya bersifat preventif, tetapi berpotensi bersifat kuratif dengan menyasar penyebab genetiknya.

Jika berhasil dikembangkan, pendekatan ini diharapkan mampu menekan angka kematian mendadak akibat sindrom brugada.

Exit mobile version