Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan riset mengenai laut seperti apa yang diinginkan masyarakat Indonesia. Hasil riset, kaum muda lebih peduli terhadap isu polusi laut dan perubahan iklim.
Penelitian ini dilakukan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN untuk mendengarkan suara masyarakat pesisir dalam merumuskan kebijakan kelautan nasional.
“Kami mencoba menjawab pertanyaan besar, laut seperti apa yang diinginkan masyarakat Indonesia?” kata Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Lestario Widodo, dalam Forum Diskusi Budaya (FDB) bertajuk “Demographic Dimension of Ocean Perceptions, Evidence from Indonesia” di Jakarta, Senin (19/5).
Menurut Lestario, hasil survei menunjukkan adanya perbedaan aspirasi antarwilayah dan kelompok umur.
Misalnya, kata Lestario, kelompok usia di bawah 30 tahun lebih peduli pada isu polusi laut dan perubahan iklim – isu yang juga menjadi tantangan utama dalam Dekade Laut PBB.
Sementara, kelompok usia yang lebih tua cenderung menekankan pada aspek ekonomi dan ketahanan hidup.
Dalam riset ini, wilayah laut dibagi ke dalam 18 ekoregion, termasuk Laut Jawa, Selat Karimata, hingga Laut Aru. Pembagian ini penting karena setiap kawasan memiliki karakteristik ekologis dan sosial yang berbeda, mulai dari pola arus, sedimen, hingga komposisi spesies.
Penting bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan berbasis bukti yang sesuai dengan kondisi lokal, bukan pendekatan seragam dari pusat, katanya.
Lebih dari sekadar survei, riset ini juga membedah keterkaitan masyarakat dengan laut, mulai dari frekuensi kunjungan, konsumsi ikan laut, hingga persepsi terhadap riset di laut dalam.
Semua ini diolah secara kualitatif dan kuantitatif untuk memberi gambaran utuh tentang kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap laut Indonesia.
Hasil riset nasional ini dilakukan sebagai bagian dari program Dekade Ilmu Kelautan untuk Pembangunan Berkelanjutan PBB (Ocean Decade) 2021-2030.
Riset ini juga menjadi kontribusi Indonesia dalam program global yang diinisiasi UNESCO, yang mengusung visi “the science we need for the ocean we want”. Program ini bertujuan mengumpulkan pengetahuan dan teknologi kelautan demi pembangunan berkelanjutan dan perlindungan ekosistem laut.
Tak hanya untuk kepentingan nasional, BRIN juga menggandeng mitra internasional dari Jepang, Australia, Prancis, hingga Amerika Serikat.
“Laut Indonesia adalah bagian penting dari sistem kelautan global. Karena itu, suara masyarakat kita sangat diperlukan untuk ikut membentuk arah kebijakan global ke depan,” ujar Lestario.
