Darilaut – Roket pendorong China Long March 5B tahap pertama melalui atmosfer masuk kembali ke Bumi di atas Asia Tenggara Sabtu (30/7).
Komando Luar Angkasa AS mengkonfirmasi masuknya kembali puing-puing dari tahap inti sepanjang 30 meter (100 kaki) dari Long March 5B terjadi pada 12:45 waktu Timur (1645 UTC) pada 30 Juli 2022 di atas Samudra Hindia.
Mengutip Universetoday.com, administrator NASA Bill Nelson merilis sebuah pernyataan, Republik Rakyat China tidak membagikan informasi lintasan spesifik karena roket Long March 5B mereka jatuh kembali ke Bumi.
Menurut Nelson semua negara penjelajah antariksa harus mengikuti praktik terbaik yang telah ada, dan membagikan jenis informasi ini sebelumnya untuk memungkinkan prediksi yang andal tentang potensi risiko dampak puing tersebut.
Terutama Long March 5B, yang membawa risiko signifikan dari hilangnya nyawa dan harta benda. Melakukan hal itu sangat penting untuk penggunaan ruang yang bertanggung jawab dan untuk memastikan keselamatan orang-orang di Bumi.
Puing-puing kemungkinan diamati dari Kuching di Sarawak, Malaysia, dan menurut astronom dan spesialis puing orbital Jonathan McDowell, akan mendarat di bagian bawah di Kalimantan utara, mungkin di Brunei.
Para ahli mengatakan bahwa sementara sebagian besar tahap roket kosong diperkirakan akan terbakar saat masuk kembali, sekitar 20 hingga 40 persen dapat bertahan, seperti komponen mesin yang dirancang untuk menahan suhu tinggi.
China juga tidak membagikan informasi apa pun tentang mengapa pendorong itu akan jatuh kembali ke Bumi tanpa kendali, tetapi seperti yang dikatakan Administrator Associated NASA untuk Sains Thomas Zurbuchen, pasti ada sesuatu yang sangat salah.
Dengan meningkatnya peluncuran roket di seluruh dunia, sebuah studi baru-baru ini menyimpulkan ada kemungkinan 6-10% bahwa seseorang akan mati karena puing-puing yang jatuh dari luar angkasa selama sepuluh tahun ke depan.
Jatuh di Samudra Hindia dan Melewati Malaysia
Sebuah roket bekas peluncuran stasiun antariksa Tiongkok terpantau jatuh di Samudera Hindia.
Peristiwa tersebut terjadi pada 30 Juli 2022, pukul 23.45 WIB. Sebelumnya, Pusat Riset Antariksa – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memantau melalui situs pemantauan secara real time. Serpihannya melewati wilayah Sarawak, Malaysia.
“Sampah antariksa CZ5B, roket bekas peluncuran modul stasiun antariksa RRT diprakirakan jatuh malam ini, 30-31 Juli 2022,” kata Peneliti Senior BRIN, Thomas Djamaludin, Sabtu (30/7).
Data malam itu menunjukkan bahwa bobot sampah sekitar 20 ton dengan ukuran 30 meter. “Orbit saat ini, ketinggiannya makin mendekati 120 km, ketinggian kritis objek antariksa utk jatuh. Terpantau, Indonesia di wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan Barat terlintasi pada saat-saat akhir lintasan bekas roket,” tulis Thomas.
“Pusat Riset Antariksa BRIN terus memantaunya. Kemungkinan besar jatuh di lautan.”
Pemantauan real time bisa diikuti di situs BRIN http://orbit.brin.go.id/index.php/pemantauan-realtime.
“Alhamdulillah, sampah antariksa besar, bekas roket peluncuran RRT CZ5B berbobot sekitar 20 ton berukuran 30 meter telah terkonfirmasi atmospheric re-entry di Samudera Hindia tadi malam, 30 Juli 2022, pk 23.45 WIB,” kata Thomas.
Thomas juga mengatakan bahwa sampah tersebut tidak berbahaya bagi biota laut di Samudera Hindia.
Menurut Thomas data orbit dari pemantauan space-track.org menunjukkan titik jatuh di barat daya Indonesia. Namun bisa jadi ada pecahannya yang mungkin tersebar sepanjang lintasan terakhir, orbitnya melintasi Sumatera bagian selatan.
Bila ada penduduk yang melihat objek langit yang jatuh sekitar pukul 23.45 WIB segera melaporkan ke Pusat Riset Antariksa BRIN melalui email prantariksa@brin.go.id.
Menurut Kepala Pusat Riset Antariksa, Emanuel Sungging Mumpuni, berdasar hasil analisis tim Riset Benda Jatuh Antariksa, sampah antariksa yang telah mengalami atmospheric re-entry tersebut akan jatuh di sekitar wilayah selatan Filipina, dan akan berada pada ketinggian 10 km di atas wilayah Sarawak Malaysia (Panah Merah).
Sungging mengatakan, proses benda jatuh antariksa ini juga berhasil direkam oleh pengamat di Lampung melalui Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL).
Selanjutnya, di wilayah Malaysia, juga terpantau serpihan roket yang sama.
“Serpihan roket berkenaan telah terbakar semasa memasuki ruang udara bumi dan pergerakan serpihan yang terbakar berkenaan turut melintasi ruang udara Malaysia serta dapat dikesan di beberapa kawasan termasuk melintasi ruang udara sekitar negeri Sarawak,” demikian informasi resmi dari Kementerian Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) melalui maklumat tertulis Agensi Angkasa Malaysia (MYSA), pada 31 Juli 2022.
Fenomena ini turut dibuktikan dengan kesaksian dari masyarakat di wilayah Malaysia yang berhasil merekam fenomena tersebut dari perangkat seluler mereka dan menjadi viral.
Sumber: Universetoday.com dan BRIN
