Sebagian Besar Wilayah Indonesia Masih Berpotensi Hujan

Ilustrasi hujan. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Cuaca di Sebagian besar wilayah Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.

Menurut Direktorat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 19 – 21 Mei 2026 perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Kemudian di Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Begitu pula adanya peningkatan hujan dengan intensitas lebat terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini di Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.

Angin kencang di Aceh bagian utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur.

Pada periode 22 – 25 Mei 2026, perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan.

Kemudian di Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Waspada adanya peningkatan hujan dengan intensitas lebat terjadi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.

Angin kencang dapat terjadi di Aceh bagian utara dan Papua Selatan bagian selatan.

BMKG mengatakan dalam beberapa hari terakhir, kondisi cuaca di Indonesia masih menunjukkan dinamika khas masa peralihan. Berkurangnya tutupan awan di pagi hingga siang hari pada sejumlah wilayah membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif, sehingga suhu udara pada siang hari terasa lebih panas.

Pada periode 14-17 Mei 2026, suhu maksimum di atas 35,0°C hingga 36,0°C masih teramati di beberapa wilayah, seperti Sumatra Utara, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, dan Papua Barat. Kondisi suhu yang terik pada siang hari dapat mendukung proses pembentukan awan hujan, terutama pada periode sore hingga malam hari. Peluang ini umumnya lebih besar terjadi di wilayah yang memiliki kelembapan udara cukup, karena kondisi atmosfer mendukung bagi pertumbuhan awan konvektif.

Hal tersebut dikonfirmasi dengan masih adanya hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang masih tercatat di sejumlah daerah pada periode yang sama.

BMKG mencatat curah hujan harian cukup signifikan di Jawa Barat 184,5 mm/hari, Kalimantan Tengah 129,8 mm/hari, Kalimantan Barat 105,0 mm/hari, Riau 95,5 mm/hari, Sulawesi Selatan 96,7 mm/hari, Sumatra Utara 91,0 mm/hari, Maluku Utara 87,3 mm/hari, Sulawesi Tengah 78,9 mm/hari, Kep. Riau 77,6 mm/hari, Nusa Tenggara timur 61,9 mm/hari, dan Kalimantan Utara 53,5 mm/hari.

Peningkatan peluang hujan dalam periode ini dipengaruhi oleh kombinasi beberapa dinamika atmosfer yang sedang aktif, antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG).

Fenomena tersebut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Selain itu, keberadaan sirkulasi siklonik di beberapa area juga turut mendukung terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin, sehingga kondisi atmosfer mendukung terbentuknya awan konvektif yang memperbesar peluang terjadinya hujan dengan intensitas signifikan.

Exit mobile version