Sejumlah Warga Meninggal Karena Tertimbun Tanah Longsor di Sukabumi dan Tulungagung

Foto udara lokasi kejadian tanah longsor di Desa Pasirdatar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (24/10). FOTO: BPBD Kabupaten Sukabumi/BNPB

Darilaut – Sejumlah warga di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meninggal dunia karena tertimbun longsor.

Di Kampung Ciletik, Desa Pasirdatar Indah, Kecamatan Caringin, Sukabumi, tiga orang ditemukan meninggal tertimbun material tanah longsor, Senin (24/10). Sementara di Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Tulungagung, tiga orang menjadi korban tanah longsor susulan yang terjadi pada Minggu (23/10).

Hasil kaji cepat sementara oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, petaka itu diduga terjadi karena adanya rembesan air ke dalam tanah dari kolam pemancingan umum yang berada di bagian atas rumah korban.

Ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut, struktur tanah yang labil tanpa penguat lereng akan terkikis oleh rembesan air dan longsor ke bawah menimpa rumah korban dan permukiman lainnya.

Data sementara, ada lima rumah yang mengalami rusak berat, empat rumah lainnya terancam dan satu ruko turut terdampak.

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Sukabumi bersama unsur gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, relawan dan warga setempat bergotong-royong untuk mengevakuasi para korban dan melakukan upaya pembersihan material longsor.

Di Desa Nyawangan, Tulungagung, tiga orang korban tanah longsor susulan setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur di sekitar lokasi kejadian.

Setelah melakukan pembersihan material, korban bersama beberapa warga masih berada di lokasi kejadian untuk istirahat.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terjadi tanah longsor susulan yang menimpa para korban dan sejumlah warga.

Selain tiga orang yang meninggal dunia, juga dilaporkan ada dua warga yang mengalami patah tulang dan luka ringan. Kedua warga tersebut sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Doktor (Dr) Iskak Tulungagung.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kebijakan di daerah agar tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi bencana susulan yang dapat dipicu oleh faktor cuaca.

Sesuai dengan arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto pemerintah daerah agar memastikan kesiapan alat, perangkat dan personel untuk menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem.

Di samping itu, Suharyanto juga meminta agar seluruh unsur Forkopimda melakukan perbaikan lingkungan sehingga bencana seperti banjir, banjir bandang hingga tanah longsor tidak terjadi secara berulang di tempat yang sama.

Upaya seperti monitoring lereng tebing, khususnya yang berada di wilayah perkotaan dan permukiman padat penduduk agar dilakukan secara berkala.

Di samping itu, perlu dilakukan monitoring di sepanjang bantaran sungai melalui kegiatan susur sungai.

Normalisasi sungai dan kanal serta pembersihan drainase permukiman agar dilakukan secara berkala untuk mengurangi potensi bencana susulan yang juga dapat disebabkan oleh kondisi tata ruang lingkungan.

Khusus bagi masyarakat, apabila terjadi hujan dalam durasi lebih dari satu jam, maka masyarakat yang tinggal di bantaran sungai maupun di lereng tebing agar mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.

Pastikan memperoleh perkembangan informasi terkait peringatan dini cuaca dari BMKG dan informasi mengenai penanggulangan bencana dari BNPB, BPBD, TNI, Polri dan lintas instansi lainnya.

Exit mobile version