Darilaut – Sistem peringatan dini multi-bahaya menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) ini bukan biaya, melainkan investasi dalam menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian.
Hampir 60% negara Arab telah memiliki sistem tersebut, di atas rata-rata global tetapi masih belum memadai.
Mengingat tekanan air yang akut, beberapa negara tengah meningkatkan strategi ketahanan air, termasuk desalinasi, penggunaan kembali air limbah, pembangunan bendungan, dan perbaikan jaringan irigasi, ungkap laporan tersebut.
Laporan tersebut juga mengintegrasikan proyeksi iklim regional dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim.
“Model iklim yang mencakup kawasan Arab memproyeksikan potensi kenaikan suhu rata-rata hingga 5°C pada akhir abad ini dalam skenario emisi tinggi,” kata Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Barat, Rola Dashti.
Dashti mengatakan naiknya permukaan air laut juga mengancam kota-kota pesisir. Menurunnya curah hujan memengaruhi kelangkaan air dan membahayakan produksi pangan.
Dengan menggabungkan proyeksi iklim, laporan ini memberikan gambaran tahunan tentang kondisi terkini, sekaligus berfungsi sebagai alat wawasan strategis yang memberdayakan kawasan ini untuk mempersiapkan realitas iklim di masa mendatang, kata Dashti.
Ini adalah pertama kalinya WMO, bekerja sama dengan mitranya, menyusun laporan Keadaan Iklim khusus untuk kawasan Arab, dengan informasi yang lebih spesifik dibandingkan laporan tahunan Keadaan Iklim di Asia dan Afrika.
Dalam laporan perdana, WMO menyebutkan 2024 tahun terpanas di kawasan Arab dengan laju pemanasan telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Kawasan ini juga mengalami kekurangan air tertinggi.
Kondisi suhu panas yang meningkat disertai dengan gelombang panas dan kekeringan yang lebih intens serta curah hujan dan badai ekstrem.
Ancaman iklim ini beririsan dengan tantangan sosial-ekonomi yang sedang berlangsung seperti urbanisasi yang pesat, konflik, kemiskinan, dan pertumbuhan penduduk. Laporan menyoroti kebutuhan mendesak untuk membangun ketahanan, berinvestasi dalam pengurangan risiko, dan ketahanan air, demikian menurut laporan tersebut.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, mengatakan bahwa laporan ini merupakan “langkah kualitatif menuju peningkatan pemahaman kolektif kita tentang pola iklim, risiko terkait, serta dampak sosial dan ekonominya.”
Laporan ini merupakan upaya multi-lembaga yang sesungguhnya, dengan kontribusi dari Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional (NMHS), Pusat Iklim Regional (RCC) WMO, badan-badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional, serta berbagai pakar dan ilmuwan.
Laporan “Kondisi Iklim di Kawasan Arab 2024” disusun oleh WMO bekerja sama dengan Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Barat dan Liga Negara-negara Arab untuk memberikan informasi bagi pengambilan keputusan di kawasan yang rentan terhadap perubahan iklim, yang merupakan salah satu dari 15 negara dengan kelangkaan air tertinggi di dunia.
“Tahun 2024 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat di kawasan Arab – sebuah kelanjutan dari tren jangka panjang. Suhu meningkat dua kali lipat dari rata-rata global, dengan gelombang panas yang intens yang mendorong masyarakat hingga batas maksimal,” kata Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.
