Ini adalah pertama kalinya WMO, bekerja sama dengan mitranya, menyusun laporan Keadaan Iklim khusus untuk kawasan Arab, dengan informasi yang lebih spesifik dibandingkan laporan tahunan Keadaan Iklim di Asia dan Afrika.
Dalam laporan perdana, WMO menyebutkan 2024 tahun terpanas di kawasan Arab dengan laju pemanasan telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Kawasan ini juga mengalami kekurangan air tertinggi.
Kondisi suhu panas yang meningkat disertai dengan gelombang panas dan kekeringan yang lebih intens serta curah hujan dan badai ekstrem.
Ancaman iklim ini beririsan dengan tantangan sosial-ekonomi yang sedang berlangsung seperti urbanisasi yang pesat, konflik, kemiskinan, dan pertumbuhan penduduk. Laporan menyoroti kebutuhan mendesak untuk membangun ketahanan, berinvestasi dalam pengurangan risiko, dan ketahanan air, demikian menurut laporan tersebut.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, mengatakan bahwa laporan ini merupakan “langkah kualitatif menuju peningkatan pemahaman kolektif kita tentang pola iklim, risiko terkait, serta dampak sosial dan ekonominya.”
Laporan ini merupakan upaya multi-lembaga yang sesungguhnya, dengan kontribusi dari Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional (NMHS), Pusat Iklim Regional (RCC) WMO, badan-badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional, serta berbagai pakar dan ilmuwan.




