Etnoastronomi mengkaji dan mencari bukti keterkaitan budaya masyarakat terhadap fenomena astronomi.
Studi arkeoastronomi akan terus bertumbuh dan berkembang. Setiap temuan baru tidak hanya menambah pemahaman kita tentang sejarah sains dan teknologi di nusantara, tetapi juga mengungkap filosofi dan cara pandang nenek moyang mempercayai diri mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari alam semesta.
Warisan pengetahuan ini menjadi bukti bahwa jauh sebelum era modern, langit telah menjadi panduan dan sumber inspirasi bagi peradaban.
Jejak arkeoastronomi sudah ada ribuan tahun sebelum Masehi di Indonesia, seperti dalam panduan bertani, upacara keagamaan dan memanfaatkan langit sebagai navigasi.
Pengaruh astronomi dari Tiongkok, Indian (Amerika), Arab, dan Eropa secara bertahap membentuk kombinasi akulturasi budaya yang unik, seperti Kalender Saka, arah kiblat, hingga Pranoto Mongso –kalender yang dipercayai dalam bertani berbasis pada geraknya Matahari yang digunakan masyarakat Jawa.
Bukti peninggalan arkeoastronomi lainnya adalah dengan ditemukannya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
“Kedua candi tersebut terbukti dibangun berdasarkan keselarasan dengan Matahari dan Bulan,” kata Irma.




