Darilaut – Pakar Kecerdasan Artifisial (AI) Damar Juniarto mengatakan situs web media berita telah dilemahkan oleh algoritma AI. Lalu lintas (traffic) visitor atau kunjungan pengguna di situs web berkurang.
”Media dilemahkan algoritma AI.” Ini yang perlu dipecahkan media kita, ”terutama dalam hal menyajikan berita,” kata Damar dalam lokakarya ”Penguatan Jurnalisme & Teknologi untuk ekosistem informasi tangguh melawan Missinformasi/Disinformasi di Indonesia Timur” kerja sama PT Kabar Grup Indonesia (KGI) dan BBC Media Action di Makassar, pada Rabu (17/12) pekan lalu.
Bagaimana memecahkan echo chamber tersebut, menurut Damar, mulai dari diri sendiri sebagai medium atau personal branding. Namun personal branding saja tidak cukup, yang harus dimiliki untuk memecah echo chamber antara lain menjadi seorang storyteller.
“Sampai hari ini belum ada AI yang bisa menjadi storyteller,” kata Damar, pendiri SAFEnet dan lembaga riset PIKAT Demokrasi (Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial dan Teknologi untuk Demokrasi).
”Mereka (AI) hanya menceritakan ulang, tapi menjadi storyteller AI tidak bisa.”
Storyteller, seseorang yang menyampaikan sebuah cerita, sedangkan storytelling adalah cara bercerita yang baik. Teknik penceritaan agar pesan yang disampaikan dan dituju kepada lebih banyak orang atau publik.
Bagaimana melawan AI dan memperkuat jurnalis, menurut Damar, dengan mengajarkan storytelling, dimulai dari pendidikan dasar. Jadi lebih banyak yang bercerita, sekarang lebih banyak yang mendengar.
Damar menceritakan ada senator di Amerika Serikat (AS) meminta perlombaan AI sebaiknya dihentikan dan dilakukan moratorium.
Alasan pertama, siapa paling banyak mendapat manfaat dari perlombaan AI. Hanya para pemilik teknologi AI yang dimiliki segelintir orang.
Damar yang juga konsultan eksternal untuk Badan Kecerdasan Artifisial Sekretariat Jendral PBB (UNSG Artificial Intelligence Advisory Board) di New York, mengatakan, ada banyak persoalan yang perlu dibenahi sebelum bicara pemanfaatan AI. ”Mungkin hanya 1 persen yang diuntungkan,” ujarnya.
Damar mempertanyakan apakah banyak orang mendapatkan manfaat dari keberadaan AI, terutama media berita. Apakah media mendapatkan untung dari AI. Orang sekarang mencari berita tidak lagi lagi klik medianya.
Pencarian melalui mesin Google dan platform AI lainnya, tidak lagi langsung ke link situs media berita. Di mesin tersebut sudah ada ringkasan yang dibuat oleh AI.
Kondisi ini telah berdampak pada ”penurunan secara global jumlah kunjungan” ke situs web berita. ”Untuk media di Indonesia kunjungan berkurang 40 persen. Artinya, uang yang hilang 40 persen,” ujarnya.
Platform AI sedang melakukan eksploitasi, ”karena mereka tidak memproduksi berita… Eksploitasi sudah terjadi,” kata Damar, anggota Komite Pelaksana Perpres No 32 Tahun 2024 tentang Tanggungjawab Platform Untuk Jurnalisme Berkualitas yang dinamakan Komite Tanggungjawab Platform Digital Untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB).
Banyaknya produksi konten AI di media sosial berimpilkasi pada banyak anak muda khususnya Gen Z di dunia. Anak muda khususnya Gen Z melakukan tindakan zerro post, kata Damar, mereka punya akun tapi tidak posting.
Mengutip hasil riset, Damar menjelaskan bahwa anak muda gen Z dilanda kegamangan yang luar biasa. Hal ini karena informasi betapa kering dan dangkal, terutama karena banyak konten AI, bukan lagi manusia.
Video dan gambar pakai suara AI, ini mereka tidak suka. Damar mengatakan mereka memilih meninggalkan dunia media sosial yang menggunakan AI karena hanya tempat gelap dan kering.
Menurut Damar, di dunia yang ada sekarang ini tidak ada media yang anti AI. Justru AI berperan dan diterima sebagai alat produksi.
Tahun lalu, penghargaan Pulitzer diberikan kepada dua media yang menggunakan AI. Pemenang Pulitzer menggunakan AI untuk untuk memilah data kriminal.
Dari sekian banyak kasus, seperti pembunuhan, pencurian, dan lainnya, ”bayangkan apabila ini dikerjakan dengan tangan berapa tahun (selesai), dengan AI jauh lebih cepat,” ujar Damar.
Itu salah satu contoh penggunaan AI. Contoh penggunaan kedua, AI dipakai untuk memperlihatkan laju deforestasi. AI digunakan untuk meningkatkan akurasi data.
”Sehingga data yang ditampilkan jauh lebih bagus daripada dikerjakan secara manual.”
Di luar negeri mereka sudah tahu etikanya, AI digunakan sebagai alat bantu untuk menghasilkan data yang lebih baik, kata Damar.
Di Indonesia, menurut Damar, ada niatan untuk menguasai teknologi AI. Ada kesadaran penuh kalau kita tidak menguasai teknologi AI, media akan tertinggal. Ada adagium menguasai AI akan lebih maju.
Damar menjelaskan bahwa teknologi memudahkan kinerja banyak pihak untuk memproduksi lebih cepat.
Akan tetapi, kita harus sadar pula bahwa teknologi tersebut bukan semata-mata untuk mempercepat kinerja. ”Teknologi tersebut untuk mengkapitalisasi lebih banyak dari sebelumnya,” ujarnya.
Dalam perkembangan teknologi, AI yang ada sekarang adalah fase yang sudah dirintis sejak lama, sejak tahun 1956. dari mesin learning, genetic AI, berikutnya super AI.
Damar mengajak kita untuk berpikir teknologi AI apakah hanya untuk mempecepat kinerja atau ada kepentingan lain di belakang teknologi tersebut. Ini yang perlu diperhatikan.
Hasil penelitian, Damar menjelaskan, AI diadopasi untuk News Production, membantu distribusi dan engagement. Namun, apakah AI ini sudah bisa mendistribusikan secara baik.
”Ini perlu menjadi catatan kita semua.” Sekalipun kita hidup bersama AI dan memproduksi berita dengan AI, ”sayangnya penggunaan AI di dalam distribusi tidak membuat sebuah informasi terdistribusi dengan baik,” ujarnya.
”Kenapa? Karena ada perilaku AI itu hanya ada pada kesamaan ciri.”
Ada persoalan distribusi yang tidak sama. Problemnya, ada algoritma kebencian. Kalau kita benci sesuatu, kita akan lebih banyak mendapatkan informasi tersebut, kata Damar.
Engagement platform tersebut, mesinnya hidup dari kontroversi. Ada polarisasi dan ini dapat membelah masyarakat dan akibatnya berujung pada demokrasi.
Problem yang muncul dari situs web media berita yang hidup dari algoritma AI, apakah bisa tetap ada di dua kuadran tadi, antara yang “benci” dan “tidak”.
Apakah media bisa di antara keduanya. Itu tantangannya sangat besar. ”Kita berharap media menjadi penjaga pintu gerbang…” ujar pakar Mis/Disinformasi dan Aktivis HAM. (VM)
