Spesies Baru Udang Pisang Endemik Sumatra Berpotensi Pasar

Udang pisang endemik Sumatra ditemukan di perairan Aceh, Sumatra Utara dan Lampung. FOTO: BRIN

Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengidentifikasi udang endemik Indonesia berbasis DNA molekuler. Spesies yang secara lokal dikenal sebagai udang pisang ini diketahui berhabitat di perairan pesisir Sumatra seperti Aceh, Sumatra Utara dan Lampung.

Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Ketut Sugama, mengatakan, bukti kuat perbedaan udang pisang dengan spesies lain didapat melalui penanda genetik. Menggunakan metode uji random amplified polymorphic DNA (RAPD), Sugama dan tim peneliti menemukan bahwa penggunaan penanda genetik tertentu (yang diberi kode 2 AAM2 dan AS15) mampu menampilkan pola DNA yang spesifik.

Pola genetik ini secara jelas membedakan udang pisang dari lima jenis udang komersial lainnya yang dibudidayakan di Indonesia, yaitu udang P. monodon, L. vannamei, P. merguensis, P. indicus, dan P. semisulcatus.

Tim peneliti mengaplikasikan teknologi yang menggunakan DNA chip. Pengujian spesifik menggunakan Agilent 2100 Bioanalyzer kemudian dilanjutkan dengan pengurutan genom (sequencing) untuk dicocokkan secara komputasi ke bank gen dunia.

“Nah, ini antara monodon (udang windu) dengan udang pisang tadi. Lalu, kita coba blast ke gene bank, ya. Perlu sebagai kontrol, coba kita reverse dan formatnya kita gunakan yang monodon,” kata Sugama dalam webinar bertajuk “Shaping the Future of Aquaculture with Molecular Science”, pada Rabu (11/3).

Ternyata, dari hasil itu, kalau monodon ya 100 persen antara monodon dengan monodon. Tapi, ”begitu kita bandingkan monodon dengan udang pisang, ternyata identity-nya itu hanya 92 persen,” kata Sugama seperti dikutip dari Brin.go.id.

“Artinya, kalau identity di bawah 95 persen, peluang besar itu adalah beda spesies.”

Temuan ini secara jelas mengonfirmasi udang pisang adalah spesies baru, yang kemudian diusulkan dengan nama ilmiah Penaeus symplex Sp. Nov.

Dari segi ciri fisik (morfologi), data juga menunjukkan perbedaan anatomi yang presisi. Mengenai identifikasi moncong udang, kalau kita perhatikan dengan rostrumnya, duri yang atas untuk udang pisang itu antara 7, yang duri bawahnya 3. Kalau untuk udang monodon, duri yang atas 8, di bawahnya 3, kata Sugama.

Menurut Sugama rostrum udang pisang membentang lebih panjang dibandingkan udang monodon.

Secara biologis, spesimen liar udang pisang memiliki postur tubuh yang cukup besar. Bobot induk jantan spesies ini dapat menyentuh angka 40 gram.

Dari segi dimensi tubuh, panjang induk betina tercatat mampu mencapai 23 cm, sementara pejantannya mencapai 17 cm.

Sementara dari segi pigmentasi warna tubuh, Sugama menjelaskan bahwa udang pisang memiliki rona tubuh yang cenderung kemerahan (reddish). Warna tersebut akan berubah menjadi sangat merah ketika udang diproses atau dimasak.

Terkait pengujian patogen dari spesimen alam temuan timnya secara langsung.

“Kami mencoba ambil sampel dari alam, ternyata untuk udang windu itu terinfeksi white spot, dan untuk udang pisang tidak ditemukan,” kata Sugama.

Sugama mengatakan pengujian budidaya awal di tambak HDPE selama 90 hari juga menunjukkan laju pertumbuhan yang sebanding dengan udang windu, menjadikannya sangat potensial untuk akuakultur. Ke depannya, riset genetik udang pisang akan difokuskan pada metode seleksi individu di dalam famili.

Exit mobile version