Darilaut – Serangan penyakit dan pencemaran lingkungan dapat menurunkan produktivitas hasil budidaya udang vaname.
Dengan teknologi bioflok budidaya udang vaname menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta meningkatkan produktivitas.
Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut (PRBL) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), I Ketut Sugama, mengatakan bioflok bukan sekadar teknik budidaya, melainkan pendekatan bioteknologi yang memanfaatkan bakteri baik untuk mengikat sisa pakan, kotoran udang, dan senyawa beracun, seperti amonia menjadi gumpalan mikroorganisme (flok).
Menurut Sugama, flok dapat dimanfaatkan kembali oleh udang sebagai sumber pakan alami. Dengan teknologi bioflok, limbah tidak lagi menjadi musuh utama tambak, tetapi justru diubah menjadi sumber nutrisi.
“Kualitas air lebih stabil, ketergantungan terhadap pergantian air berkurang, dan biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam budidaya udang dapat ditekan,” kata Sugama seperti dikutip dari Brin.go.id.
Industri udang vaname nasional menghadapi tantangan besar, yakni serangan penyakit, pencemaran lingkungan, tuntutan mutu produk secara global, hingga tekanan efisiensi biaya produksi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, PRBL Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, melakukan riset teknologi bioflok yang memberi harapan baru bagi budidaya udang vaname yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.




