Darilaut – Program Lingkungan PBB (UNEP) telah menerbitkan laporan terbaru yang memperkitakan kenaikan suhu global akan melampaui ambang batas 1,5°C—kemungkinan besar dalam beberapa tahun mendatang.
Hal ini akan mendorong risiko dan dampak iklim ke tingkat yang semakin berbahaya. Namun, menurut laporan baru UNEP, suhu masih dapat diturunkan kembali dan tujuan global dalam Perjanjian Paris masih dapat dicapai.
Poin-poin penting dari laporan baru tersebut:
• Jika suhu melampaui 1,5°C, risiko dan dampaknya akan semakin parah seiring dengan setiap kenaikan suhu (meski hanya sepersekian derajat) dan berlalunya waktu. Dampaknya mencakup cuaca ekstrem yang lebih dahsyat, hilangnya ekosistem, serta tenggelamnya negara-negara berkembang kepulauan kecil dan kota-kota pesisir dataran rendah. Selain itu, kerusakan parah pada kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, alam, perkotaan, infrastruktur, dan perekonomian.
• Kemungkinan melampaui titik kritis yang tidak dapat dipulihkan meningkat seiring dengan besaran dan durasi suhu yang lebih tinggi; hal ini mencakup ketidakstabilan lapisan es besar dan degradasi hutan hujan Amazon.
• Mitigasi dan adaptasi harus berjalan beriringan, dengan memprioritaskan intervensi seperti pendinginan berbasis alam (nature-based cooling).
• Net-zero merupakan tonggak pencapaian menuju kondisi net-negative (emisi negatif) dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca secara berkelanjutan.
• Syarat keberhasilan mencakup kemauan politik yang kuat dan multilateralisme, kebijakan yang efektif, tata kelola yang inklusif, serta dukungan pendanaan.
• Negara-negara yang memikul tanggung jawab lebih besar atas perubahan iklim harus bertindak paling cepat dengan ambisi terbesar.
Dalam laporan ini memperkirakan kenaikan suhu puncak dalam skenario terbaik adalah 1,8°C; skenario lain menunjukkan angka di atas 2°C.
Laporan berjudul “Limiting Overshoot: Navigating exceedance of 1,5°C and pathways towards return” ini menyimpulkan bahwa tujuan tersebut dapat dicapai jika dunia segera mengambil langkah untuk menempuh jalur ‘melampaui batas, mencapai puncak, dan kemudian menurun’ (overshoot, peak, and decline).
Untuk itu, tindakan yang cepat, kolektif, dan berskala global sangat penting untuk membatasi kenaikan suhu pada angka 1,5°C.
Aksi iklim dapat membalikkan tren saat ini dengan memangkas polusi metana, melindungi lahan, hutan, dan lautan, serta mempercepat penghentian penggunaan bahan bakar fosil.
Setiap fraksi derajat kenaikan suhu akan merenggut nyawa, menghancurkan mata pencaharian, memperparah ketimpangan, dan mendorong ekosistem semakin dekat pada kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.
“Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan hebat, dan banjir mematikan pada musim panas ini merupakan peringatan akan apa yang akan terjadi di masa depan. Kita harus membuat pelampauan batas di atas 1,5 derajat sekecil dan sesingkat mungkin. Hal itu menuntut ambisi yang melampaui batas biasa,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.
”Kita harus tetap teguh pada komitmen global dalam Perjanjian Paris, berupaya kembali ke tingkat di bawah 1,5°C menjelang akhir abad ini, serta beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim,” kata Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.
Laporan Limiting Overshoot disusun dengan kontribusi para ahli terkemuka di bidang sains iklim, adaptasi, mitigasi, tata kelola, dan pembangunan berkelanjutan, mengkaji bagaimana kita dapat mewujudkan hal tersebut.
Inger Andersen mengatakan kita harus segera melakukan pengurangan emisi CO2, metana, dan gas rumah kaca lainnya secara cepat dan besar-besaran menuju target net-zero (nol bersih), dengan pemerintah memberikan sinyal kebijakan yang tepat kepada lembaga keuangan dan sektor swasta.
