Darilaut – kebakaran dahsyat hutan dan lahan di Pulau Sumatra telah mengasapi sebagian wilayah Asia Teggara. Asap bergerak tanpa memilih batas administrasi negara. Kemana angin bergerak partikel kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan akan mengikuti.
Kebakaran hutan bukan hanya memicu krisis lingkungan, asap yang dihasilkan dapat mengancam kesehatan masyarakat di lokasi kebakaran dan tempat asap itu terbawa angin melintasi wilayah dan batas administrasi negara.
Pada 25 Agustus 2026, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menampilkan visualisasi sebaran asap Sumatra hingga Malaysia dan wilayah sekitarnya. Visualisasi dibuat dengan menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch yang baru saja diluncurkan.
Area berwarna ungu lebih pekat menunjukkan lokasi dengan konsentrasi asap yang lebih tinggi di atmosfer.
Copernicus, komponen Pengamatan Bumi dalam program antariksa Uni Eropa bertujuan memantau lingkungan, menampilkan sebaran asap kebakaran di Sumatra bagian selatan. Kondisi ini menyebabkan penurunan kualitas udara menyebabkan penutupan sekolah.
Area berwarna ungu lebih pekat menunjukkan lokasi dengan konsentrasi asap yang lebih tinggi di atmosfer.
Adam Voiland dalam artikel yang diterbitkan Science.nasa.gov menulis meskipun kebakaran terjadi setiap tahun di Indonesia, tahun-tahun yang dipengaruhi El Niño—terutama tahun 1997 dan 2015—mencatat tingkat kebakaran paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.



