Suhu Global Teratas November dan Januari Setelah Puncak El Niño

GAMBAR: WMO

Darilaut – El Niño kini telah terbentuk di Pasifik. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan kenaikan suhu global lebih lanjut.

BIasanya, puncak suhu global terjadi setelah puncak El Niño yang umumnya berlangsung antara bulan November dan Januari.

Melansir UN News, di tengah perjuangan berbagai wilayah menghadapi panas yang menyengat, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem lainnya, WMO, Selasa, menekankan pentingnya prakiraan cuaca yang lebih akurat dan sistem peringatan dini yang lebih kuat demi melindungi nyawa serta mata pencaharian.

Badan PBB tersebut menyatakan bahwa bulan lalu merupakan bulan Juli terpanas kedua yang pernah tercatat di seluruh dunia, menurut Copernicus Climate Change Service (C3S), sebuah inisiatif Uni Eropa.

Rata-rata suhu udara permukaan tercatat 1,47°C di atas perkiraan garis dasar pra-industri, dan suhu permukaan laut mencapai rekor tertinggi untuk bulan Juli.

Hawa panas masih berlanjut hingga bulan Agustus. Meskipun bulan ini merupakan puncak musim liburan di Eropa dan wilayah lain di belahan bumi utara, sebagian pekerja tidak bisa beristirahat, menurut Juru Bicara WMO, Clare Nullis.

Banyak layanan meteorologi dan hidrologi nasional, tim manajemen dan tanggap darurat, serta tenaga kesehatan “benar-benar bekerja tanpa lelah akibat berbagai cuaca ekstrem yang kita alami saat ini,” ujarnya kepada para wartawan di Jenewa.

“Dan bukan hanya panas ekstrem,” katanya. “Kita juga menyaksikan curah hujan ekstrem dan siklon tropis. Jadi, kita sama sekali tidak sedang dalam suasana liburan.”

Risiko Panas, Kekeringan dan Kebakaran

Eropa Barat mengalami periode Juni–Juli terpanas dalam sejarah, dan beberapa negara—termasuk Swiss dan Prancis—kini menghadapi gelombang panas keempat pada musim panas ini.

“Kekeringan hebat benar-benar berdampak parah,” kata Nullis, dengan dampak yang merusak terhadap sektor pertanian, hasil panen, transportasi, energi, dan ketinggian air sungai. Selain itu, kondisi ini berpadu dengan suhu tinggi sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Hawa panas tidak hanya terjadi di Eropa; Jepang dan Republik Korea mencatat suhu ekstrem yang memecahkan rekor pekan lalu, begitu pula wilayah lain di Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin.

John Kennedy, kepala informasi iklim WMO, mengatakan bahwa curah hujan yang rendah dan suhu panas telah berkontribusi pada “kekeringan, rendahnya permukaan air sungai, dan peningkatan risiko kebakaran hutan”, termasuk debit air yang rendah di sungai-sungai utama Eropa seperti Seine, Rhine, dan Danube.

Kebakaran Hutan Ekstrem

Kebakaran hutan semakin meningkat. Nullis mengatakan bahwa “bulan lalu mencatat aktivitas kebakaran hutan yang luar biasa di seluruh Eropa Barat,” baik dari segi luas lahan yang terbakar maupun emisi yang dihasilkan.

Ia menyebutkan bahwa data emisi kebakaran dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service menunjukkan bahwa tingkat emisi di Prancis sepanjang tahun ini setara dengan, atau bahkan lebih tinggi daripada, tingkat yang tercatat pada tahun-tahun dengan kebakaran ekstrem di 2022 dan 2023.

Negara tersebut diperkirakan akan mengalami salah satu tahun dengan tingkat kebakaran paling ekstrem dalam 24 tahun terakhir, sementara emisi kebakaran di negara tetangga, Spanyol, juga jauh di atas rata-rata untuk periode tahun ini.

Sementara itu di Amerika Utara, kebakaran hutan sedang berkecamuk di sebagian wilayah barat Amerika Serikat, sedangkan Kanada mencatat 591 titik api aktif per hari Senin, termasuk 43 titik api yang dikategorikan tidak terkendali.

Pola Cuaca Ekstrem

Namun, seperti yang disampaikan Nullis, “ini bukan hanya soal suhu panas,” karena hujan monsun lebat dan banjir juga sedang melanda sebagian wilayah Afrika Barat.

WMO menerbitkan laporan mingguan Global Hydromet Scan yang disediakan bagi lembaga-lembaga kemanusiaan. Edisi terbaru laporan tersebut memperingatkan adanya potensi hujan lebat, risiko banjir bandang, dan tanah longsor minggu ini di wilayah timur laut dan barat India, Pakistan bagian timur, Nepal, Bangladesh, Bhutan, Myanmar, serta beberapa wilayah di Asia Tenggara.

Tiongkok juga melakukan evakuasi massal menjelang kedatangan Topan Dolphin akhir pekan lalu—topan ke-13 musim ini—di tengah banyaknya peringatan terkini mengenai risiko banjir berbahaya.

Kennedy mengatakan bahwa kondisi ekstrem belakangan ini mencerminkan “dampak gabungan antara pemanasan jangka panjang dan pola sistem tekanan tinggi serta rendah yang bergantian dan membentang di seluruh belahan bumi utara.”

Ia menjelaskan bahwa sistem tekanan tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi yang lebih panas dan kering karena udara yang turun akan memanas dan mengurangi pembentukan awan, sehingga memungkinkan lebih banyak sinar matahari masuk.

Sistem ini juga dapat menghalangi masuknya udara yang lebih sejuk dan dapat bertahan selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.

Exit mobile version