Suhu Perairan Meningkat Ancam Populasi Ikan dan Sistem Budidaya

GAMBAR: BRIN

Darilaut – Peningkatan suhu perairan tidak hanya memengaruhi pertumbuhan dan metabolisme ikan, tetapi juga berdampak langsung pada sistem imun serta kerentanan terhadap penyakit. 

“Dalam konteks perubahan iklim, tekanan suhu ini diperkirakan akan terus meningkat dan berpotensi mengancam keberlanjutan populasi ikan, baik di alam maupun dalam sistem budidaya,” ujar Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fahrurrozi, Senin (26/1.

Dalam webinar internasional bertajuk “Temperature-Driven Fish Physiology and Disease: From Red Garra (Garra rufa) Human Disease Model to Climate-Linked Proliferative Kidney Disease (PKD) in Brown Trout (Salmo trutta)”, Fahrurrozi  mengatakan suhu merupakan faktor abiotik yang sangat menentukan kondisi fisiologis ikan.

Perubahan iklim global semakin menegaskan pentingnya riset berbasis sains untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan tawar dan sistem budidaya ikan.

Fahrurrozi menjelaskan bahwa riset ikan model saat ini tidak lagi terbatas pada kepentingan akuakultur. Ikan model telah berkembang menjadi platform penting dalam riset biomedis dan kesehatan manusia.

Menurut Fahrurrozi pengembangan riset mengenai ikan model yang mampu bertahan pada suhu mendekati fisiologis manusia dinilai strategis untuk meningkatkan validitas hasil penelitian, memperkuat standardisasi prosedur eksperimen, serta memastikan keterulangan riset lintas laboratorium dan lintas negara.

Yasuhito Shimada dari Mie University Jepang, menjelaskan perkembangan garra rufa sebagai ikan model yang mampu hidup stabil pada suhu 37 derajat Celsius.

Kondisi ini mendekati suhu fisiologis manusia dan membuka peluang luas bagi riset penyakit manusia serta penemuan obat berbasis pendekatan phenotype-based discovery.

“Pengembangan model ini didukung oleh berbagai sumber daya riset mutakhir, mulai dari perakitan genom tingkat kromosom,” ujar Shimada, mengutip Brin.go.id.

“Pengembangan atlas histologi sebagai dasar interpretasi anatomi dan anotasi molekuler, hingga analisis ATAC-seq untuk mengkaji perubahan aksesibilitas kromatin yang berkaitan dengan toleransi suhu tinggi.”

Shimada mengatakan pemanfaatan garra rufa telah diperluas ke berbagai domain riset, termasuk pemodelan obesitas dan metabolisme, desain transplantasi kanker, pengembangan model infeksi untuk mengevaluasi respons inang dan efektivitas terapi, serta kajian fungsi otak dan perilaku.

Sementara itu,  peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar, Khairul Syahputra, mengatakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh Tetracapsuloides bryosalmonae telah menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi salmonid di berbagai wilayah Eropa.

Peningkatan suhu perairan diketahui memperburuk kondisi fisiologis ikan sekaligus mempercepat siklus hidup parasit pada inang perantara, sehingga meningkatkan keparahan penyakit, kata Khairul.

Khairul menjelaskan interaksi antara suhu, sistem imun ikan, dan dinamika patogen menjadi kunci dalam memahami risiko penyakit di era perubahan iklim.

“Temuan riset ini memberikan dasar ilmiah penting bagi upaya mitigasi, pencegahan, dan pengendalian penyakit ikan yang dipengaruhi suhu. Baik untuk kepentingan konservasi di alam maupun keberlanjutan sistem budidaya air tawar,” ujarnya.

Exit mobile version