Darilaut – Sumber gempa bumi darat magnitudo (M)5,2 yang mengguncang Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, memiliki mekanisme oblique naik.
Dari lokasi, kedalaman, dan mekanismenya, dapat diperkirakan gempa bumi ini berasosiasi dengan aktivitas subduksi Lempeng Laut Sulawesi, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Gempa bumi terjadi pada Sabtu (20/12) pukul 17.33.27 WIB atau 18.33.27 Wita. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 0,47 LU – 121,96 BT. Gempa dengan kedalaman hiposenter 102,0 km.
Menurut informasi dari USGS (The United States Geological Survey) Amerika Serikat, pusat gempa berada pada koordinat 0,4946 LU – 121,8893 BT dengan magnitudo M 5,0 pada kedalaman 124,137 km.
Hasil analisis Pusat Vulkanologi kondisi daerah terdekat dengan pusat gempa bumi memiliki morfologi dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, dan pegunungan.
Litologi penyusun wilayah ini terdiri atas Batuan Terobosan berumur pratersier, Batuan Gunungapi berumur kuarter hingga tersier, dan Batuan Sedimen berumur kuarter.
Batuan yang telah mengalami pelapukan dan/atau sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi.
Berdasarkan data tapak lokal vs30, wilayah terdekat dengan pusat gempa bumi diklasifikasikan ke dalam Kelas Tanah C (tanah sangat padat dan batuan lunak), Kelas Tanah D (tanah sedang), dan Kelas Tanah E (tanah lunak).
Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti bahwa potensi guncangan gempa bumi di area tersebut bisa terasa lebih intens, menurut Pusat Vulkanologi.
Gempa bumi ini dirasakan dengan skala skala Modified Mercalli Intensity (MMI) IV di Pohuwato dan Boalemo, III di Kota Gorontalo, Bonebolango, Buol, dan Tolitoli, II-III di Kabupaten Gorontalo, serta II di Kabupaten Gorontalo Utara.
Belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan bangunan akibat kejadian gempa bumi ini.
Menurut Badan Geologi, daerah ini terletak pada Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi. Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami.
Pusat Vulkanologi mengimbau agar masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
Masyarakat diharapkan melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah terjadi gempa bumi. Masyarakat juga diimbau mengamati dan mematuhi rambu evakuasi.
Selain itu, masyarakat diimbau menjauhi daerah tebing yang berpotensi terjadi gerakan tanah, terutama saat terjadi hujan.
Menurut Pusat Vulkanologi, kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak diikuti oleh bahaya ikutan, seperti retakan tanah, penurunan lahan, likuefaksi dan longsoran, kata .
Pusat Vulkanologi merekomendasikan bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi.
