Selain itu, melalui kolaborasi dengan Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), tim juga akan menguji prototipe Smart Autonomous Marine Sensing System atau Smart Buoy.
Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi riset antara Direktorat Meteorologi Maritim dan STMKG yang diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem observasi kelautan yang lebih efektif dan adaptif.
Sebelum survei utama dilaksanakan, BMKG bersama STMKG dan Stasiun Meteorologi Maritim Merak telah melakukan survei pendahuluan pada 9–11 September 2026. Kegiatan tersebut mencakup pemetaan kondisi keamanan dan perairan, kesiapan teknis, serta koordinasi dengan pemangku kepentingan setempat guna memastikan kelancaran pelaksanaan survei.
Selain memperkuat kualitas layanan meteorologi maritim, survei ini juga memiliki nilai strategis dalam mendukung keterpaduan informasi kebencanaan di kawasan Selat Sunda.
Sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di Indonesia yang berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, ketersediaan data meteorologi dan oseanografi yang akurat menjadi penting untuk melengkapi informasi terkait kondisi atmosfer, laut, maupun aktivitas vulkanik.
Agi berharap hasil survei dapat mendukung penguatan integrasi data meteorologi, oseanografi, geofisika, dan vulkanologi dalam kerangka Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS).



