Tak Sesuai SOP, Lebih 25 Turis Mengerubuti Seekor Hiu Paus di Botubarani Gorontalo

Lebih dari 25 turis asing menyelam dengan seekor ikan hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo, melanggar SOP. GAMBAR: INSTAGRAM

Darilaut – Lebih dari 25 turis asing mengerubuti seekor ikan hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Botubarani, Bone Bolango, Gorontalo.

Wisatawan yang sekali turun dalam jumlah banyak tersebut tidak sesuai dengan standard operating procedure (SOP) atau prosedur operasional standar saat berinteraksi dengan hiu paus.

Sebuah video singkat di media sosial Instagram dan Tiktok memperlihatkan rombongan wisatawan sedang menyelam dengan menggunakan snorkeling di lokasi wisata Hiu Paus Botubarani, Teluk Tomini.

Keterangan di video tersebut, mereka adalah rombongan turis kapal pesiar MV Coral Geographer. Mereka mendatangi lokasi wisata hiu paus setelah lebaran Idul Fitri atau pertengahan bulan April ini.

Berdasarkan Keputusan Dirjen Pengelolaan ruang Laut KKP RI No. 41/2022 tentang petunjuk teknis Pelaksanaan Wisata Hiu Paus, salah satunya mengatur jarak 3 (tiga) meter dari sisi samping dan kepala, 4 (empat) meter dari sisi ekor (disarankan menghindari ekor), dan tidak menghalangi arah hiu paus berenang.

Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, Syafrie Kasim, mengatakan, pengelola wisata sudah menyampaikan bahwa kapasitas orang yang turun hanya 15 orang/grup.  

Namun kondisi di lapangan belum bisa dikendalikan karena kunjungan wisatawan sangat membludak.

“Ke depan kami akan membenahi hal tersebut sesuai dengan regulasi,” ujar Syafrie.

Lokasi Pantai Botubarani termasuk salah satu Kawasan konservasi Perairan Daerah (KKPD). Diperlukan lembaga pengelola kawasan konservasi yang sesuai dengan mandatnya agar bisa mengatur kehadiran wisatawan.

Menurut Peneliti Kelautan dan Wisata Bahari, Gusnar Lubis Ismail, kunjungan wisatawan tersebut ibarat warna warni sampah plastik yang mengapung di kawasan konservasi karena sudah tidak ada keteraturan, serta aturan berinteraksi sudah tidak dijalankan dan diindahkan lagi.

“Saya berharap wisata Bahari di Gorontalo termasuk wisata minat khusus hiu paus Botubarani dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah konservasi agar wisata baharinya berkelanjutan,” kata Gusnar.

”Harusnya wisata minat hiu paus Botubarani mengadopsi pengelolaan wisata minat hiu paus yang sudah berkembang di dunia seperti di Australia, Philipina, dan di Indonesia seperti di Teluk Cendrawasi Papua & Teluk Saleh Sumbawa,” ujar Gusnar.

Gusnar juga menegaskan bahwa Gorontalo harusnya bersyukur dengan kedatangan kapal pesiar yang membawa banyak wisatawan asing berkunjung ke Wisata Hiu Paus Botubarani.

Hal ini menjadi berkah bagi kelompok dan pelaku wisata Bahari dan bisa menjadikan Gorontalo sebagai tujuan utama wisatawan manca negara dan bukan hanya sekadar tempat persinggahan atau transit wisatawan. (VM / Sulis Dwi Fadjar Baeda)

Exit mobile version