Darilaut – Provinsi Gorontalo mencatat peningkatan kasus kelainan kornea dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa komplikasi diabetes pada mata bukan masalah kecil.
Hasil penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan: penderita diabetes melitus (DM) dengan gula darah yang tidak terkontrol memiliki risiko 7,364 kali lebih tinggi mengalami ulkus kornea infeksius berat. Suatu kondisi luka pada kornea mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen hingga kebutaan.
Riset ini dilakukan Tsabita Zahra Potutu, Nanang Roswita Paramata, Naning Suleman, Edwina Rugaiah Monayo, Nelyan Helma Mokoginta, yang diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Jompa Vol. 5 No. 1 Maret 2026, dengan judul ”Hubungan Diabetes Melitus terhadap Tingkat Keparahan Ulkus Kornea Infeksius di Gorontalo: Studi Cross-Sectional”.
Penelitian ini menemukan hubungan signifikan antara diabetes melitus tidak terkontrol, ditandai dengan kadar glukosa darah sewaktu (GDS) ≥200 mg/dL, dan peningkatan keparahan ulkus kornea infeksius di Gorontalo, dengan pasien berisiko 7,364 kali lebih tinggi mengalami ulkus derajat berat.
Sebanyak 66,7% subjek menunjukkan hiperglikemia berat, sementara mayoritas ulkus berada pada derajat sedang (46,7%) dan berat (33,3%).
Temuan ini mengonfirmasi peran keratopati diabetik sebagai faktor risiko utama, didukung uji Fisher-Freeman-Halton Exact (p=0,014). Meskipun demikian, keterbatasan mencakup ukuran sampel kecil (n=30) yang menyebabkan confidence interval lebar, desain cross-sectional yang membatasi inferensi kausal, serta ketergantungan data rekam medis tanpa informasi HbA1c atau durasi DM.
Secara praktis, hasil ini mendorong kontrol glikemik ketat, skrining mata rutin pada penderita DM, dan edukasi pola makan rendah indeks glikemik di wilayah Gorontalo guna mencegah komplikasi okular berat.
Penelitian dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe dan RSUD dr. Hasri Ainun Habibie terhadap 30 pasien. Mayoritas pasien mengalami ulkus kornea dengan tingkat keparahan sedang hingga berat.
Angka ini menunjukkan bahwa masalah kontrol gula darah masih menjadi tantangan besar, termasuk di daerah.
Temuan ini menjadi alarm penting bagi masyarakat Indonesia, terutama karena diabetes kini semakin banyak menyerang usia produktif. Penyakit yang kerap disebut “silent killer” ini ternyata juga dapat diam-diam merusak kesehatan mata.
Ulkus kornea infeksius sendiri merupakan luka terbuka pada lapisan bening paling depan mata, yaitu kornea. Kondisi ini dapat muncul akibat infeksi bakteri, jamur, maupun mikroorganisme lain.
Gejalanya sering berupa mata merah, nyeri hebat, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, hingga keluarnya cairan dari mata.
Yang membuat kondisi ini berbahaya adalah pada penderita diabetes, proses penyembuhan luka jauh lebih lambat. Gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah kecil, mengganggu saraf kornea, serta menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi.
Secara medis, kadar gula darah tinggi dalam waktu lama memicu pembentukan zat berbahaya bernama advanced glycation end-products (AGEs). Zat ini mempercepat peradangan, meningkatkan stres oksidatif, dan merusak jaringan kornea.
Akibatnya, mata menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan lebih sulit sembuh setelah mengalami luka.
Masalahnya, kondisi ini sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika penglihatan sudah menurun drastis.
Pola hidup masyarakat juga ikut berperan besar. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat sederhana seperti nasi putih dalam porsi besar, minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan tinggi gula dapat memperparah lonjakan gula darah harian.
Ditambah gaya hidup kurang aktif dan beban kerja tinggi, pengendalian diabetes menjadi semakin sulit.
Penelitian ini juga menemukan bahwa mayoritas pasien adalah laki-laki usia produktif hingga lansia awal yang masih aktif bekerja. Hal ini memberi gambaran bahwa kesibukan kerja sering membuat seseorang mengabaikan kontrol kesehatan rutin, termasuk pemeriksaan gula darah dan kesehatan mata.
Di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia, ancaman kesehatan yang sering luput dari perhatian ternyata bukan hanya penyakit jantung, stroke, atau gagal ginjal. Mata pun bisa menjadi korban.
Bahkan, jika kadar gula darah tidak terkontrol, risiko gangguan penglihatan berat hingga kebutaan dapat meningkat drastis.
