Terancam Punah, Populasi Lumba-lumba Irrawaddy di Thailand Mengkhawatirkan

Sekelompok lumba-lumba Irrawaddy di Danau Songkha, Thailand. FOTO: BANGKOKPOST.COM

Darilaut – Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand, Varawut Silpa-archa, menyatakan keprihatinan atas rendahnya populasi lumba-lumba Irrawaddy di Thailand. Varawut mendesak semua pihak untuk meningkatkan upaya untuk membantu melindungi spesies yang terancam punah tersebut.

Hasil survei dari tahun 2020, menteri mengatakan, hanya ada 14 lumba-lumba Irrawaddy di Danau Songkhla dan 89 di Sungai Mekong, sementara sekitar enam lumba-lumba ditemukan mati di pantai antara tahun 2006 dan tahun lalu.

Mengutip Bangkokpost.com (1/5) Varawut mengatakan penyebab kematian mamalia ini tidak dapat dibuktikan secara definitif karena bangkainya membusuk parah pada saat ditemukan.

Jumlah lumba-lumba Irrawaddy yang ditemukan mati di pantai, Varawut menjelaskan, telah menurun pada tahun 2015. Hal ini merupakan indikasi bahwa kampanye yang dilakukan dari tahun 2014 hingga 2015 untuk mendorong para nelayan yang beroperasi di Danau Songkhla agar tidak menggunakan jaring ikan besar untuk menangkap ikan lele raksasa telah membuahkan hasil.

Saat itu, berbagai upaya konservasi dilakukan untuk menghimbau para nelayan agar berhenti menggunakan jaring ikan berukuran besar, yang diyakini dapat melukai atau membunuh lumba-lumba Irrawaddy saat digunakan.

“Salah satu kegiatan utama adalah menawarkan untuk membeli jaring ikan raksasa itu — [yang] panjangnya sekitar 1,5 hingga 3 kilometer — menggunakan dana yang dikumpulkan oleh berbagai organisasi,” kata Varawut seperti dikutip dari Bangkokpost.com.

“Tampaknya berhasil mengingat lebih sedikit lumba-lumba yang ditemukan tertangkap di jaring ikan raksasa.”

Namun tren itu tidak bertahan lama.

“Antara 2020 dan tahun lalu, setidaknya dua lumba-lumba Irrawaddy ditemukan mati di jaring ikan besar setelah beberapa nelayan menggunakannya untuk menangkap ikan lele raksasa di Danau Songkhla,” kata Varawut.

Lele raksasa Mekong pertama kali dibawa ke danau oleh berbagai organisasi bertahun-tahun yang lalu untuk meningkatkan populasi mereka, katanya.

Seiring berjalannya waktu dan banyak ikan lele yang tumbuh, para nelayan mulai membuat jaring raksasa untuk menangkap mereka karena ikan tersebut laku dengan harga tinggi.

Praktik tersebut, katanya, merupakan ancaman nyata bagi populasi lumba-lumba Irrawaddy di danau itu dan tetap ada meskipun ada peringatan tentang dampak lingkungan.

Varawut mengatakan lumba-lumba air tawar hanya ditemukan di Sungai Irrawaddy di Myanmar, Sungai Mekong di Laos dan Kamboja, Sungai Mahakam di Indonesia, Danau Chilika di India, dan Danau Songkhla di Thailand.

Sumber: Bangkokpost.com

Exit mobile version