Tiga Pekan Terus-Menerus Banjir Menggenangi Lekobalo Kota Gorontalo

Selama tiga pekan terakhir, akhir Juni hingga pertengahan Juli 2024, air masih menggenangi rumah warga di Kelurahan Lekobalo, Kota Gorontalo. FOTO: FIRGITHA DESYA PADJA

Darilaut – Banjir tak berkesudahan menggenangi rumah warga di Kelurahan Lekobalo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.

Curah hujan tinggi yang terjadi di sebagaian wilayah di Provinsi Gorontalo sejak akhir Juni hingga pertengahan Juli ini mengakibatkan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di beberapa daerah, salah satunya di Kelurahan Lekobalo.

Tak banyak yang tahu, Kelurahan Lekobalo, yang letaknya berada di aliran sungai yang mengalir dari Danau Limboto dan menyatu dengan Sungai Bolango, sudah hampir sebulan rumahnya terendam banjir.

Air sungai yang semula tenang tiba-tiba meluap dan menggenangi tempat tinggal warga di Lekobalo. Selain berasal dari luapan sungai, wilayah ini juga termasuk pada kawasan dataran rendah, sehingga air tidak mengalir secara maksimal.

Hingga Senin (15/7) pagi Kelurahan Lekobalo mengalami masa sulit yang berlarut-larut akibat banjir.

Air mulai masuk rumah warga akhir Juni. Di beberapa titik air masuk rumah warga dengan tinggi satu hingga satu setengah meter.

Akibat banjir ini, warga menghadapi kesulitan dalam hal pasokan makanan dan air bersih. Aktivitas yang tadinya normal seolah berubah menjadi mimpi buruk.

Badan rasanya tidak nyaman karena setiap hari terpapar air yang entah telah tercampur kotoran jenis apa.

Air datang, kotoran dan berbagai macam sampah pun juga ikut menghampiri.

Genangan air ini tidak hanya mengganggu mobilitas warga, namun juga menjadi sarang penyakit, seperti deman berdarah dan penyakit kulit lainnya.

Setiap saat warga harus bertahan dari ketidakpastian mengenai bagaimana hari-hari mereka di masa yang akan datang.

Ketika hujan turun dalam waktu yang lama, warga biasanya akan berjaga-jaga mengamankan barang-barang berharga mereka terlebih dahulu. Barang-barang seperti sofa, kasur, dan elektronik akan diboyong ke tempat yang lebih tinggi.

Ketika banjir yang tergenang masih mencapai mata kaki, masyarakat memilih untuk tetap bertahan di rumah masing-masing untuk menjaga barang berharga.

Mereka bahkan merakit kayu-kayu untuk dibuat semacam panggung di dalam rumah yang difungsikan sebagai tempat tidur dan tempat beraktivitas selama banjir masih menggenangi tempat tinggalnya.

Namun, beberapa hari lalu, ketika hujan lebat mengguyur daerah tersebut selama berhari-hari membuat debit air makin naik hingga mencapai batas leher orang dewasa.

Bahkan beberapa rumah warga hanya menyisakan atap. Pemukiman yang tadinya padat akan penduduk tersebut berubah menjadi layaknya pemandangan sungai.

Masyarakat yang tadinya bertahan di dalam rumah dan beraktivitas di atas panggung rakitan, mau tidak mau harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Dalam situasi ini barang-barang berharga dinomor duakan, keselamatan diri sendiri dan keluarga menjadi nomor satu.

Curah hujan tinggi yang terjadi waktu itu menjadi peristiwa mengulang sejarah 15 tahun lalu dan menjadi awal mula penderitaan warga.

“Banjir di sini biasanya berbulan-bulan baru surut,” kata Iman, salah satu warga Kelurahan Lekobalo.

”Aktivitas kami terbatas sekali. Jadi kami antisipasi dengan membuat panggung di dalam rumah untuk beraktivitas sehari-hari seperti makan dan tidur, tapi kalau airnya sudah cukup tinggi seperti ini, mau tidak mau kita pergi mengungsi ke atas,” ujarnya.

Banjir di Kelurahan Lekobalo, Kota Gorontalo. FOTO: FIRGITHA DESYA PADJA

Selain banjir, rumah warga di perbukitan dihantam longsor. Tak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut. Namun tercatat kerugian material yang dialami pemilik rumah.

Banjir yang berkepanjangan memberikan dampak besar bagi warga. Salah satunya pendidikan anak-anak terganggu karena sekolah yang terpaksa diliburkan, mata pencarian warga juga menjadi tak menentu.

Masa-masa sulit ini belum ada jalan keluar. Pemerintah dan berbagai lembaga non-pemerintah telah bekerja keras memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.

Bantuan ini berupa makanan siap saji, air bersih, obat-obatan dan perlengkapan sehari-hari terus dikirim ke lokasi.

Selain itu, tenda-tenda sebagai pusat penampungan sementara juga didirikan sebagai tempat tinggal sementara masyarakat yang terdampak.

Namun, walaupun bantuan telah tersedia, proses pemulihan jangka panjang masih menjadi tantangan utama bagi penduduk Lekobalo saat ini.

Di tengah ketidakpastian, binar-binar semangat masyarakat seolah tak pernah pudar. Satu-satunya yang dapat dilakukan oleh mereka saat ini adalah dengan bertahan hidup.

Harapan akan banjir segara surut sebagai doa yang dipanjatkan sehari-hari, sehingga dapat memulai kembali kehidupan dengan semangat yang baru. (Firgitha Desya Padja)

Exit mobile version