Tiga Spesies Baru Kantong Semar di Sulawesi dan Papua Memperkaya Daftar Flora Indonesia

Orasi ilmiah Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Muhammad Mansur, pada Rabu (24/6). FOTO: BRIN

Darilaut – Lebih dari 38 tahun, Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Muhammad Mansur, masuk keluar hutan pedalaman dan terpencil di Sulawesi hingga pegunungan Papua.

Hampir empat dekade hidupnya untuk memahami, menemukan, dan melestarikan salah satu tumbuhan unik di dunia, yaitu Kantong Semar (Nepenthes spp.).

Dedikasinya tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi benteng penting bagi konservasi keanekaragaman flora Indonesia.

“Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia adalah aset berharga yang memerlukan pengelolaan bijak dan konservasi aktif,” ujar Mansur seperti dikutip dari Brin.go.id.

Dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6), Mansur menyampaikan orasinya yang berjudul “Kantong Semar (Nepenthes spp.) di Indonesia: dari Keanekaragaman Hayati menuju Sistem Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan.”

Di balik sosok ilmuwan yang tampak bersahaja, tersimpan kisah panjang eksplorasi dan kecintaan terhadap alam. Lahir di Cianjur pada 22 Mei 1959, Mansur mengawali karier penelitiannya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1985 dan kini melanjutkan kiprahnya sebagai Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Selama lebih dari 38 tahun, Mansur menjelajahi hampir seluruh kawasan hutan Indonesia untuk meneliti ekologi tumbuhan, khususnya Nepenthes.

Perjalanan ilmiahnya telah menghasilkan berbagai capaian penting. Salah satunya adalah penemuan tiga spesies baru Nepenthes yang memperkaya daftar flora Indonesia, yaitu Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah pada 2009, Nepenthes monticola dari Papua Barat pada 2012, dan Nepenthes diabolica pada 2020.

Temuan tersebut bukan sekadar menambah nama dalam katalog botani dunia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman Nepenthes.

Bagi Mansur, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan tumbuhan dari kepunahan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan berkelanjutan.

Mansur menyoroti potensi Nepenthes sebagai tanaman hias bernilai ekonomi tinggi, objek wisata berbasis alam, hingga biomonitor lingkungan karena kemampuannya mengakumulasi berbagai logam berat.

Beberapa jenis bahkan memiliki kemampuan menyerap karbon yang sebanding dengan pohon-pohon pionir di hutan sekunder.

Komitmen tersebut tercermin dalam berbagai aktivitas ilmiahnya. Selain menghasilkan puluhan publikasi ilmiah dan buku, Mansur juga aktif membimbing peneliti muda, mahasiswa, serta memberikan layanan identifikasi Nepenthes bagi kalangan akademik.

Baginya, regenerasi ilmuwan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan riset dan konservasi biodiversitas Indonesia.

Indonesia rumah bagi 83 jenis Kantong Semar atau sekitar 39,3% dari seluruh Nepenthes di dunia. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai pusat persebaran Nepenthes terbesar di dunia.

Dari 83 jenis, enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature).

Exit mobile version