Darilaut - Titik panas (hotspot) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) masih tetap terbanyak di seluruh Indonesia, sementara kualitas udara di Palangkaraya kategori Berbahaya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan konsentrasi partikulat (PM2.5) pada Kamis (15/10) pukul 17.00 WIB sebesar 1.373,8 µg/m3 (mikrogram per meter kubik) berada pada kategori Berbahaya. Kamis pukul 22.00 WIB sebesar 351,4 µg/m3. Pemantauan BMKG pada Rabu (14/10), teridentifikasi hotspot di Kalimantan sebanyak 346 titik. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan Rabu, pukul 21.00 WIB, hotspot di Kalimantan Tengah 130 titik, naik dari 65 titik. Sebelumnya, pada 30 Agustus 2026 pukul 21.02 WIB, hotspot di Kalimantan Tengah 308 titik. Minggu, 6 September 2026 pukul 21.25 WIB terdeteksi hotspot di Kalimantan Tengah tercatat 243 titik. Data SiPongi Minggu, 13 September 2026 pukul 21.20 WIB, terdeteksi hotspot di Kalimantan Tengah 89 titik. Di tengah kondisi atmosfer yang masih kering, hingga Senin, 14 September 2026 pukul 21.05 WIB, hotspot di Kalimantan Tengah naik menjadi 689 titik. Pada Rabu (16/9) pukul 21.00 WIB, hotspot di Kalimantan Tengah 102 titik. Sabtu (19/9) pukul 23.59 WIB, hotspot di Kalimantan Tengah naik menjadi 1.035 titik. Peningkatan paling signifikan terjadi di Kalimantan Tengah, sehingga wilayah tersebut menjadi fokus utama penguatan operasi oleh Kementerian Kehutanan. Kabut asap masih memengaruhi aktivitas di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada Sabtu (19/9), jarak pandang di Palangka Raya sempat turun hingga sekitar 350 meter pada pagi hari, yang berdampak pada aktivitas penerbangan. Minggu (20/9) pukul 21.05 WIB menunjukkan hotspot di Kalimantan Tengah sebanyak 968 titik, turun dari 1.035 titik, sehari sebelumnya. Kabut asap masih menjadi tantangan serius bagi operasi dan aktivitas masyarakat. Pada Minggu (20/9), jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sempat turun hingga sekitar 600 meter. Kondisi tersebut berdampak terhadap 14 pergerakan pesawat, terdiri atas tujuh kedatangan dan tujuh keberangkatan yang mengalami gangguan. Data SiPongi pada Jumat (2/10) pukul 21.10 WIB, hostspot tercatat 355 titik di Kalimantan Tengah. Kualitas udara memburuk. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus terutama kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis. Satwa Liar Kebakaran hutan dan lahan juga mengganggu habitat, sumber pakan, serta jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa yang terdampak. Setiap laporan mengenai keberadaan satwa liar terdampak terlebih dahulu dilakukan verifikasi dan asesmen lapanganuntuk mengetahui kondisi satwa dan menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.