Darilaut – Mozambik sedang bersiap menghadapi topan (typhoon) Freddy yang akan mendarat akhir pekan ini. Sedikitnya 27 orang tewas karena siklon tropis (Tropical Cyclone) Freddy.
Sistem ini berkembang di selatan Jawa pada 3 Februari, kemudian mendapatkan penamaan sebagai siklon tropis pada 6 Februari oleh Biro Meteorologi Australia, di selatan Nusa Tenggara, Indonesia.
Setelah melewati Madagaskar barat daya awal pekan ini, Freddy bergerak ke barat laut melalui Selat Mozambik dan diperkirakan akan menghantam pantai Mozambik.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dilansir Reliefweb.int, di Madagaskar, setidaknya 10 orang tewas dan tiga lainnya hilang setelah Freddy membawa hujan lebat ke barat daya pulau itu sejak 5 Maret.
Lebih dari 72.600 orang terkena dampak badai terbaru, termasuk 24.300 orang yang mengungsi, 16.367 di antaranya berada di 34 lokasi sementara di beberapa distrik dan lebih dari 7.900 tinggal bersama kerabat di wilayah Menabe dan Atsimo Andrefana, menurut laporan awal oleh Biro Nasional Risiko dan Penanggulangan Bencana (BNGRC).
Diperkirakan sekitar 12.400 rumah (6.000 kebanjiran, 900 rusak dan 5.500 hancur) dan 280 ruang kelas (158 hancur, 67 rusak dan 55 tanpa atap) terkena dampaknya, mengakibatkan hampir 28.000 siswa belum bisa bersekolah.
Ini membuat jumlah kematian Freddy di Madagaskar menjadi 17 (7 dari pendaratan pertama pada 21 Februari dan 10 terakhir ini). Hampir 299.000 orang terkena dampak (226.000 di tenggara, dan lebih dari 72.600 di barat daya).
Sekitar 72.700 orang mengungsi sementara terdampak Freddy, sebanyak 48.000 di tenggara dan 24.000 di barat daya.
Di Mozambik, ketika pendaratan Freddy di provinsi Inhambane pada 24 Februari, sekitar 171.400 orang terkena dampak—termasuk 10 tewas, 10 luka-luka, dan 5.100 mengungsi— setelah hujan lebat dan banjir di wilayah tersebut.
Lebih dari 30.000 rumah terkena dampak, termasuk 14.600 rusak, 1.900 hancur dan 13.500 banjir, menurut Institut Nasional Penanggulangan Bencana (INGD) per 6 Maret.
Diperkirakan, 56.900 hektar tanaman juga terkena dampaknya. Pendaratan Freddy terjadi setelah banjir di Mozambik yang telah berdampak pada lebih dari 43.000 orang sejak 3 Februari, khususnya di Maputo.
Saat Freddy mendekati pendaratan keduanya di Mozambik, kondisi cuaca diperkirakan akan memburuk.
Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 10,1 meter, kata Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama, Joint Typhoon Warning Center (JTWC).
Selama enam jam terakhir Freddy telah bergerak ke utara-barat laut dengan kecepatan 7 km per jam (4 knot).
Dalam 12 jam, Freddy diperkirakan akan meningkat intensitasnya menjadi 130 km per jam (70 knot) karena perbaikan struktur dan memasuki lingkungan yang semakin menguntungkan, sesaat sebelum mendarat di dekat Quelimane, Mozambik.
Dalam 24 jam, diperkirakan Freddy akan terus meningkat menjadi 140 km per jam (75 knot) sesaat setelah mendarat.
Freddy kemudian akan melemah intensitasnya karena interaksi dengan daratan.
Cutah Hujan di Mozambik
Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WHO) Mozambik telah menerima curah hujan lebih dari satu tahun dalam sebulan terakhir, dan Madagaskar mendapat tiga kali rata-rata bulanan dalam waktu seminggu.
Ada dampak sosial ekonomi dan kemanusiaan yang besar tetapi peringatan dini yang akurat oleh Badan Meteorologi dan Hidrologi Nasional dan manajemen bencana terkoordinasi di lapangan telah membatasi jumlah korban.
Ramalan terbaru Pusat Meteorologi Khusus Regional La Réunion (Meteo-Prancis), Freddy akan mendarat untuk kedua kalinya di Mozambik.
Topan akan bergerak lambat di dekat pantai dan perairan yang lebih hangat dapat berkontribusi pada intensifikasi Freddy. Prediksi ini masih belum pasti dan akan bergantung pada waktu pendaratan.
Akan ada angin yang merusak, gelombang badai, dan curah hujan ekstrem di wilayah yang luas termasuk Zimbabwe Timur Laut, Zambia Tenggara, Malawi, dan Mozambik.
Curah hujan diperkirakan berjumlah 200 hingga 300 mm dan sebanyak 400-500 mm di atas area pendaratan di Mozambik. Ini lebih dari dua kali curah hujan bulanan biasa dalam hitungan hari.
Malawi dapat menerima curah hujan kumulatif lebih dari 150 hingga 200 mm dalam 24 jam.
WMO membentuk komite ahli untuk mengevaluasi apakah topan Freddy telah memecahkan rekor sebagai siklon tropis terlama yang pernah tercatat.
Siklon tropis ini telah melintasi Samudra Hindia selama 33 hari dan menempuh jarak lebih dari 8.000 kilometer.
Akumulasi energi siklon (indeks yang digunakan untuk mengukur energi) setara dengan rata-rata musim badai Atlantik Utara penuh.
Sumber: Reliefweb.int (OCHA), Zoom.earth/JTWC dan Public.wmo.int
