Tren Memprihatinkan: 24 Hiu Paus Terdampar di Selatan Jawa dalam 3 Tahun

Seekor hiu paus berukuran 5,5 meter terdampar di Pantai Pasir Puncu, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tenggah, pada Senin (8/12), pagi. Spesies ikan dengan nama latin Rhincodon typus itu sudah menjadi bangkai saat terdampar di pantai. FOTO: ARIEF NUGROHO/SEALIFE INDONESIA.

Darilaut – Kasus hiu paus mati terdampar di Pantai Pasir Puncu, Purworejo, awal pekan ini kembali menegaskan tren meningkatnya keterdamparan megafauna laut di wilayah selatan Jawa. Seekor hiu paus jantan sepanjang 5,2 meter ditemukan mati pada Senin (8/12), setelah sehari sebelumnya dilaporkan terdampar dalam keadaan lemah di titik lain di garis pantai yang sama.

Peristiwa ini menambah panjang daftar keterdamparan hiu paus di kawasan selatan Jawa. Berdasarkan data LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, dalam tiga tahun terakhir terjadi 24 kejadian keterdamparan, dengan Purworejo mencatat sedikitnya tiga kasus. Seluruh rangkuman kejadian menunjukkan pola yang konsisten: puncak keterdamparan terjadi pada kuartal keempat setiap tahun, terutama Oktober-November.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Mochamad Iqbal Herwata Putra, menegaskan bahwa selatan Jawa kini menjadi pusat keterdamparan hiu paus. Ia menjelaskan bahwa fenomena oseanografi berupa upwelling penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan menjadi magnet bagi hiu paus untuk mencari makan.

“Namun perubahan iklim dapat menggeser distribusi mangsa, memicu cuaca ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap kesehatan hiu paus,” ujar Iqbal.

Tak hanya faktor alamiah, ancaman antropogenik seperti pencemaran perairan, by-catch, dan tabrakan kapal juga menjadi pemicu utama. Pada kasus di Kebumen, misalnya, seekor hiu paus terbukti mengalami keracunan logam berat. Iqbal menilai, kondisi serupa sangat mungkin terjadi di Purworejo.

Sinyal menguatnya fenomena ini terlihat dari rentetan kejadian beberapa hari sebelum penemuan di Pasir Puncu. Pada 6 Desember, individu hiu paus didorong kembali ke laut di Pantai Cemoro Sewu setelah ditemukan lemah. Dua hari kemudian, hiu yang diduga sama kembali terseret ombak dan akhirnya mati.

Kepala DLHP Purworejo, Wiyoto Harjono, mengatakan bahwa perubahan suhu dan salinitas laut dapat mengganggu navigasi hiu paus saat migrasi. Ia menambahkan, gangguan internal pada organ pencernaan dan pernapasan juga dapat membuat hiu kehilangan orientasi.

“Ada banyak faktor yang berperan. Kondisi lingkungan sangat mungkin memengaruhi kejadian ini.”

Sementara itu, pihak Sealife Indonesia melalui dokter hewan Dwi Suprapti melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian. Hasil awal menunjukkan tidak ada luka serius pada tubuh hiu paus, kecuali bekas melepuh pada bagian ekor. Namun temuan yang paling signifikan justru berada pada lambung.

“Lambung penuh dengan udang rebon yang belum tercerna. Ada indikasi toksikasi, namun harus dipastikan melalui uji laboratorium.”

Meningkatnya frekuensi keterdamparan hiu paus ini mengisyaratkan perlunya penanganan sistematis. LPSPL Serang menilai pentingnya penguatan jejaring penanganan biota laut terdampar serta peningkatan kualitas SDM agar respons dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Selain itu, diperlukan penelitian lanjut untuk memahami pola keterdamparan dan faktor-faktor pemicunya.

Dalam konteks konservasi, kejadian ini menjadi pengingat bahwa hiu paus yang dilindungi penuh di Indonesia sejak 2013 masih menghadapi ancaman yang kompleks. Mulai dari perubahan iklim, pencemaran laut, aktivitas manusia di perairan, hingga ketidakseimbangan ekologi di habitat migrasi.

Dengan wilayah selatan Jawa yang terus menjadi hotspot keterdamparan, para peneliti dan pemangku kebijakan kini didorong untuk menyusun strategi mitigasi yang lebih konkret.

“Informasi mengenai waktu dan lokasi keterdamparan harus menjadi panduan untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Iqbal.

Kasus Purworejo tahun ini menegaskan, bahwa fenomena keterdamparan bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola krisis lingkungan yang lebih besar dan mendesak untuk segera direspons.

Exit mobile version