Peristiwa Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada tahun 2022 memicu tsunami serta hujan abu lebat.
Perubahan iklim memperparah musim topan tahun 2024 di Filipina, dengan enam badai berturut-turut dalam waktu kurang dari satu bulan; situasi ini diperburuk lagi oleh kenaikan permukaan laut yang terjadi tiga kali lebih cepat daripada rata-rata global.
Peristiwa tsunami saat ini menjadi pengingat bahwa berbagai ancaman tersebut tidak terjadi secara terpisah, dan bahwa masyarakat pesisir yang rentan menghadapi risiko berlapis yang diperparah oleh perubahan iklim.
Analisis ESCAP menunjukkan luasnya paparan terhadap infrastruktur pesisir yang krusial—tidak hanya terhadap tsunami, tetapi juga gempa bumi, banjir, kenaikan permukaan laut, dan siklon tropis.
Seperti yang terlihat, Jepang memiliki jumlah bangunan terbesar yang terancam, dengan nilai aset mencapai US$1,67 triliun.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa negara-negara kepulauan kecil merupakan pihak yang paling rentan mengalami kerugian, dengan sebagian besar infrastruktur mereka terpapar oleh berbagai bahaya pesisir tersebut. Kiribati dan Tuvalu menjadi contoh nyata, di mana masing-masing 82 persen dan 75 persen dari total bangunan yang ada terpapar oleh ancaman ini.
Bisa dikatakan, minimnya kerusakan pada komunitas pesisir Rusia merupakan hasil dari pembelajaran atas peristiwa-peristiwa sebelumnya. Pada tahun 1950-an, terjadi reformasi besar dalam perencanaan kota, termasuk keputusan untuk membangun kembali Severo-Kurilsk di dataran yang lebih tinggi, serta pembentukan Sistem Peringatan Dini Tsunami Rusia.



