UNICEF Prihatin Dampak Topan Super Noru Terhadap Anak-anak di Filipina

Sejumlah warga tinggal sementara di Sekolah Dasar Talao-Talao di Lucena, Filipina. Sekolah tersebut berfungsi sebagai pusat evakuasi saat topan super Noru mendekati dan mendarat di Filipina. FOTO: UNICEF/CAHYO

Darilaut – United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyatakan keprihatinannya terhadap anak-anak yang terkena dampak langsung Topan Super Noru di Filipina.

Topan Noru dengan nama Filipina “Karding” memberikan dampak hampir satu juta orang di delapan wilayah yang terkena dampak angin topan dan hujan deras, di antaranya ribuan keluarga miskin.

Dalam siaran pers UNICEF, Minggu (25/9) Badan anak-anak PBB tersebut telah menyiapkan pasokan untuk keluarga, terutama bagi mereka yang berada di komunitas rentan dan berisiko tinggi di jalur topan Noru.

Noru adalah topan ke-11 yang melanda Filipina pada tahun 2022 dan topan paling kuat yang melanda pulau Luzon tahun ini. Topan ini berkembang menjadi topan super setelah periode intensifikasi yang cepat.

Laporan Department of Social Welfare and Development’s DROMIC Preparedness mencatat pada Minggu pagi, hampir 800.000 orang di delapan wilayah akan terkena dampak angin topan dan hujan deras, di antaranya lebih dari 32.000 keluarga miskin.

UNICEF, bersama dengan mitranya, memantau situasi dengan cermat dan mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap anak-anak dan keluarga yang berisiko.

UNICEF telah menyiapkan persediaan darurat seperti tenda, tablet penjernih air, wadah air dan peralatan kebersihan untuk segera didistribusikan kepada keluarga yang terkena dampak.

“Krisis iklim dan pandemi Covid-19 sudah sangat merugikan anak-anak di Filipina. Untuk dapat tumbuh bahagia dan sehat, anak membutuhkan rasa aman dan stabilitas, terutama pada saat darurat,” kata Perwakilan UNICEF, Oyunsaikhan Dendevnorov.

“Mempersiapkan dan menjaga anak-anak di pusat pengurangan risiko bencana adalah salah satu cara terbaik untuk memberikan stabilitas itu.”

Selama bencana, anak-anak termasuk yang paling rentan. Anak-anak dan keluarganya mengalami angin kencang, hujan lebat, banjir, tanah longsor, dan pengungsian yang menyebabkan mereka berhenti sekolah.

Selain itu, memiliki akses yang lebih sedikit ke layanan kesehatan, air bersih dan makanan bergizi, terpapar penyakit seperti Covid-19, dan wajah risiko pelecehan, eksploitasi, dan penelantaran yang lebih tinggi.

Exit mobile version