Darilaut – Selama libur Imlek dan awal bulan Ramadan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau untuk waspada potensi hujan signifikan.
Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan berdasarkan analisis terkini, peningkatan hujan signifikan berkaitan dengan penguatan Monsun Asia yang membawa aliran angin baratan yang kuat, sehingga mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan hasil analisis terkini bahwa terjadi penguatan Monsun Asia yang membawa aliran angin baratan cukup dominan sehingga mempercepat pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.
Di samping itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai negatif di sebagian wilayah Indonesia juga mengindikasikan meluasnya tutupan awan tebal dan meningkatnya aktivitas konvektif.
Lebih lanjut, BMKG mengatakan kombinasi aktivitas Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua turut berkontribusi terhadap penguatan proses konvektif di kawasan tersebut.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan bahwa aktivitas fenomena atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cuaca di Indonesia.
Pada skala global, nilai SOI dan Niño3.4 menunjukkan kondisi La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) juga diprediksi turut memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.
Aktivitas MJO diprakirakan masih berada pada fase Indian Ocean dalam beberapa hari ke depan, sehingga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di hampir seluruh wilayah.
Selanjutnya, kata BMKG, kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuator dan Low Frequency terpantau aktif di wilayah Samudra Hindia barat Sumatra hingga barat daya Jawa, Perairan barat Sumatra, Sumatra bagian utara hingga tengah, Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Samudra Pasifik utara Papua hingga timur laut Papua Nugini.
Dalam beberapa hari ke depan, Monsun Asia masih diprakirakan aktif dan memberikan suplai massa udara serta perpindahan uap air menuju wilayah Indonesia yang cukup signifikan.
Kondisi tersebut diperkuat dengan Indeks Surge yang diprediksi signifikan dalam beberapa hari ke depan. Lebih jauh lagi, sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia Barat Daya Lampung, Barat Aceh, Perairan barat Kalimantan Barat, dan Samudera Pasifik utara Papua.
Dengan kelembapan udara yang juga masih tinggi, kondisi di atas berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia, kata BMKG.
Sebelumnya, selama periode 12 – 16 Februari 2026, BMKG mengamati kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di sebagian wilayah Indonesia.
Pada periode ini, puncak curah hujan harian berada pada kategori sangat lebat, masing-masing tercatat di wilayah Lampung (143.0 mm/hari), Sulawesi Selatan (140.5 mm/hari), Bangka Belitung (134.4 mm/hari), Kalimantan Barat (113.7 mm/hari), DI Yogyakarta (110.0 mm/hari).
Kondisi tersebut terjadi seiring dinamika atmosfer yang aktif dan berubah cepat, sehingga mendorong pertumbuhan awan hujan secara lebih masif di beberapa wilayah.
