Ambon- Pembudidaya rumput laut di desa Lermatang, Saumlaki Provinsi Maluku, kini menikmati tingginya harga rumput laut yang mencapai Rp 20 ribu per kilogram.
Dalam kunjungan lapangan tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa di desa Lermatang, Ketua Bidang Perlindungan Nelayan dan Pemberdayan Masyarakat Pesisir, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) Dr Adi Candra mengatakan, tingginya harga rumput laut memberi dampak positif bagi pembudidaya rumput laut.
“Ikut senang melihat mereka merasakan harga rumput laut yang tinggi dan semoga ini bisa dimanfaatkan untuk membangun ketahanan ekonomi mereka” kata Adi Candra.
Kapal Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa singgah di Saumlaki selama 8 hari dari tanggal 22- 30 Maret 2019. Selama singgah di Saumlaki, tim ekspedisi melakukan kegiatan pengumpulan data dan masalah terkait kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir.
Pembudidaya rumput laut, Yaya mengatakana, harga rumput laut telah bertahan selama 2 minggu. “Ini sangat menguntungkan petani dan kebetulan produksi rumput laut di Lermatang saat ini sangat bagus” kata Yaya.
Usaha budidaya rumput laut di Lermatang merupakan salah satu program investasi social INPEX yang dalam implementasinya bekerjasama dengan LSM Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia.
Program pengembangan budidaya rumput laut di desa Lermatang telah dilaksanakan sejak tahun 2016 dengan fokus intervensi pada 3 kelompok.
Menurut Fasilitator DFW-Indonesia Muh Syukri, pola budidaya rumput laut oleh kelompok di desa Lermatang kini makin baik.
“kelas kelompok ini telah meningkat dari pemula menjadi kelompok madya, yang berarti kapasitas berkelompok telah makin baik” kata Syukri.
Hal ini dibuktikan dengan terbangunnya secretariat kelompok dan tabungan kelompok pembudidaya di salah satu bank di Saumlaki. “Cuma tantangannya adalah kelompok budidaya rumput laut belum bisa secara mandiri mengorganisasi kegiatan kelompok sehingga masih memerlukan pendampingan” kata Syukri.
Selain itu, kegiatan destruktif masih ditemukan di Lermatang yaitu kegiatan penambangan pasir secara ilegal oleh masyarakat setempat.
Kegiatan ini seperti kurang mendapat pengawasan dari pemerintah setempat. “Kampung lama Lermatang ini cocok dikembangkan menjadi desa wisata dimana pengunjung dapat menikmati panorama pasir putih dan menyaksikan dan belajar tentang kegiatan budidaya rumput laut yang dilakukan oleh warga.” kata Syukri.*
