Oleh:
Dr. Eghbert Elvan Ampou (Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Oseanografi, BRIN)
Prof. Maria Beger (Professor di University of Leeds, The University of Queensland)
Dr. Gino Valentino Limmon (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-FPIK, Unpatti)
Keanekaragaman Hayati dan Kesehatan Terumbu Karang di perairan Bau-Bau yang masuk Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara terletak di wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
Wilayah ini berbatasan dengan Taman Nasional Wakatobi, salah satu kawasan terumbu karang terkaya di dunia.
Data laporan “Potensi Terumbu Karang Indonesia 2021” COREMAP-CTI, BRIN menyebutkan persentase tutupan karang hidup = 32,38%. Kondisi ini mendukung beragam ikan karang dan invertebrata dan masuk kategori “sedang” serta mengalami penurunan sebesar 3,38% di tahun 2018.
Hal ini lebih disebabkan oleh intrusi dari darat ke laut (hulu-hilir), faktor antropogenik, serta masih sering terjadi eksploitasi ikan dengan cara tidak ramah lingkungan (e.g. menggunakan bom), dll.
Pada tanggal 24 April – 12 Mei 2024 penulis melaksanakan “Survei Ekologi Climate Reefs Project: Mengintegrasikan Risiko, Evolusi dan Sosial ekonomi untuk keberlanjutan Perikanan di Kawasan Ekosistem Terumbu Karang Dalam Menghadapi Perubahan Iklim di perairan Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.”
Penelitian ini kerja sama antara University of Leeds, Universitas Pattimura (Unpatti), University of the Philippines dan Universitas Hasanuddin (Unhas), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Adapun kegiatan substansi survei yang dilakukan diantaranya pengambilan data: Monitoring ikan karang (identifikasi spesies), Bentik habitat (foto habitat), Invertebrata, Alga, Sampel air laut (e-DNA).
Selanjutnya, data 10 (sepuluh) target spesies sampel karang: Acropora loripes, Acropora millepora, Pocillopora damicornis, Pocillopora verrucosa, Mycedium elephantotus, Seriatopora hystrix, Platygyra daedalea, Pachyseris speciosa, Diploastrea heliopora, Porites cylindrica.
Sampel ini untuk dilakukan uji e-DNA dengan perbandingan dengan lokasi yang sudah pernah diambil sebelumnya di Ambon dan Filipina.
Peneliti yang berkolaborasi masing-masing Maria Begger dan Chancey MacDonald dari University of Leeds United Kingdom (Inggris);, Gino V. Limmon, Prandito Simanjuntak, Cilun Djakiman, dan Fajrin Rahayaan dari Universitas Pattimura (Indonesia).
Kemudian, Marichelle Barolo dan Diana Rose Bugay University of the Philippines (Filipina); Ben Charo dari Coral Reef Alliance; Halwi Masdar dari Universitas Hasanuddin; serta Eghbert Elvan Ampou dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tim tersebut melakukan penelitian bersama enam orang kru Kapal Riset Unhas Explorer.
“Sekali merengkuh dayung, dua tiga Pulau Terlampaui”. Selain mendampingi aktivitas penyelaman dan proses pengambilan 10 target spesies sampel karang di setiap lokasi penyelaman, serta penanganan sampel yang dilakukan langsung diatas kapal Unhas Explorer, kami juga secara simultan menggunakan kamera bawah air melakukan monitoring habitat terumbu karang.
Berdasarkan hasil survei tersebut tindak lanjut dari kegiatan ini dilakukan workshop yang diselenggarakan di Ruang Pertemuan Hotel Unhas pada 10-11 Mei 2024 yang mendapat dukungan langsung juga oleh Rektor Unhas Prof. Dr. Jamaludin Jompa.
Diharapkan nantinya semua data dan informasi tersebut tidak hanya berakhir pada publikasi ilmiah saja. Namun yang terpenting bagaimana membawa dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat lewat pemangku kepentingan terkait agar ekosistem terumbu karang dapat berkelanjutan (sustainable).
Seperti ekoeduwisata dengan memanfaatkan data dan informasi penelitian tersebut baik media sosial maupun dalam bentuk infografis. Sehingga dapat memicu kunjungan wisatawan yang bukan hanya berlibur namun sambil belajar dan melihat secara langsung ekosistem terumbu karang dan diharapkan dapat membantu meningkatkan ekonomi kerakyatan.
