Tentang Nusa Utara

Buku Gemuruh Magma Gemuruh Ombak di Bibir Pasifik, penerbit Yayasan Serat Manado. FOTO: AIS KAI

Oleh: Ais Kai

SUDAH lama saya mengenal Verrianto Madjowa. Pertemanan saya dengan Verry sejak kuliah di Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

Bahkan ada klaim, di mana ada Verry di situ ada Ais, atau di mana ada Ais di situ ada Verry, tak pernah selesai diceritakan.

Verry saat ini sebagai Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Gorontalo dan pemimpin umum/penanggung jawab media dalam jaringan Darilaut.id, situs tentang berita kelautan populer di Indonesia.

Pada Sabtu (15/2) malam, dia melakukan peluncuran sederhana buku dengan judul “Gemuruh Magma Gemuruh Ombak di Bibir Pasifik” bersama ketua dan anggota AMSI Sulawesi Utara (Agust Hari, Acha A. Yusuf dan AJI Manado Yoseph E Ikanubun).

Buku ini diterbitkan tahun 2019 oleh Serat Manado (anggota IKAPI), yang kebetulan saya dipercayakan jadi editor dan penyelaras akhir.

Buku ini banyak mengungkap berbagai hal mengenai Nusa Utara (Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro), beranda terdepan Indonesia di Pasifik. Semuanya dipotret dengan sangat jeli oleh penulis.

Apalagi dengan beragam keistimewaan Nusa Utara, khas Kepulauan Nusantara.

Buku Gemuruh Magma memang sangat menarik dan mengulas banyak hal tentang kawasan Nusa Utara, ketika dirinya bertugas sebagai jurnalis.

Buku ini hasil reportase tahun 1992 hingga 2005, merupakan satu dari sedikit ulasan marine anthropology yang ada di nusantara.

Banyak kisah-kisah menarik tentang Nusa Utara, termasuk potensi alam, serta kekayaan budaya, yang menjadi bagian dari kearifan lokal Indonesia.

Sajiannya tetap kontekstual dan menjadi bagian dari dokumen sejarah yang luar biasa.*

Ais Kai, Editor

Exit mobile version