Darilaut – Tahun 2025 ditandai oleh bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang terjadi pada akhir November 2025.
Pemicunya adalah curah hujan tinggi akibat badai siklon Senyar yang diperparah oleh berkurangnya daya dukung lahan akibat deforestasi dan perubahan fungsi lahan di area hulu. Berdasarkan data Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 26 Desember 2025, korban meninggal mencapai 1135 orang, 489,6 Ribu orang mengungsi, 173 orang masih dinyatakan hilang dan ratusan ribu rumah rusak.
Wartawan dan keluarganya, serta media, juga menjadi korban dari bencana ini. Banyaknya daerah yang terisolasi, infrastruktur listrik dan telekomunikasi yang rusak, juga berdampak pada wartawan dalam menjalankan profesinya.
Kasus Kemerdekaan Pers
Dampak lain dari bencana di Sumatera ini adalah terjadinya penghalang-halangan terhadap wartawan dalam melaksanakan profesinya. Assiten Teritorial Kastaf Kodam Iskandar MudaKolonel Inf Fransisco merampas dan menghapus video rekaman wartawan Kompas TV DaviAbdullah saat merekam ketegangan antara personel militer dengan warga negara asing yangdatang memberi bantuan ke Aceh pada pada 11 Desember 2025.
CNN Indonesia menghapus kontennya dari media sosial pada Rabu 17 Desember 2025 yangberisi potongan siaran wartawannya yang menangis saat melakukan siaran dari Lokasibencana di Aceh Taming karena melihat banyak warga yang belum tersentuh bantuan. CNN menyatakan penghapusan tersebut karena konten tersebut disalahgunakan.




