Darilaut – Indonesia memiliki kondisi geografis yang berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) dan pertemuan lempeng tektonik aktif. Wilayah pesisir berbatasan langsung dengan lempeng megathrust menyimpan potensi gempa yang dapat memicu gelombang tsunami.
Untuk itu, Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) pada Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut) atau Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL).
Alat buatan dalam negeri ini ditujukan untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Indonesia.
Melansir Brin.go.id, selama enam tahun terakhir, perangkat tersebut telah aktif memantau perairan pesisir Indonesia.
Urgensi pengembangan PUMMA tidak terlepas dari karakteristik geologi Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang, PRKG BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA, selain untuk tsunami, juga diharapkan dapat disandingkan dengan upaya mitigasi bencana pesisir ramah lingkungan seperti tanaman pantai, tanggul alami dan struktur berbasis material alami lainnya untuk pengelolaan dinamika pesisir dan perlindungan Pantura Jawa.




