“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismic,” ujar Semeidi Selasa (26/5).
“PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.”
Semeidi mengatakan, kata “murah” dalam nama alat ini bukan sekadar menggambarkan biaya produksi yang rendah, melainkan mencerminkan filosofi efisiensi tanpa mengorbankan keandalan.
Alat ini mampu memantau kondisi (anomali) permukaan laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik (near-real time).
Ada usulan untuk mengganti kata ‘murah’ menjadi ‘multiguna’, karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir, kata Semeidi.
Semeidi juga menambahkan bahwa pengembangan PUMMA sangat mempertimbangkan kondisi khas kebencanaan di Indonesia.
Menurut Semeidi, sebagian besar tsunami di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal, sehingga memerlukan pendekatan deteksi yang berbeda dibandingkan sistem konvensional.




