Menurut Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP), pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan ini diproyeksikan melambat menjadi 4,0 persen pada tahun 2026, turun dari 4,6 persen pada tahun 2025, sementara inflasi diperkirakan akan naik menjadi 4,6 persen, naik dari 3,5 persen.
Laporan tersebut menyoroti bahwa proyeksi ini masih mengandung ketidakpastian yang signifikan, dengan perang Teluk yang sedang berlangsung menambah tekanan melalui harga energi dan pangan yang lebih tinggi serta permintaan global yang lebih lemah.
Laporan terbaru PBB tersebut juga memperingatkan inflasi yang naik telah meningkatkan biaya hidup. Terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, sementara utang publik yang tinggi dan potensi kenaikan suku bunga dapat membatasi kemampuan pemerintah untuk merespons.
Terlepas dari perlambatan tersebut, Asia dan Pasifik diperkirakan masih akan tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat di antara negara-negara berkembang, meskipun ESCAP mengatakan bahwa penguatan permintaan domestik dan kerja sama regional akan menjadi kunci untuk mempertahankan pertumbuhan.



