Jakarta – Fintech DanaLaut –sebuah perusahaan teknologi finansial– menyiapkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 50 miliar di tahun 2019 ini. Pembiayaan ini ditargetkan untuk petambak garam, budidaya rumput laut, usaha turunan produk laut, tambak dan pusat pengolahan.
“DanaLaut berkomitmen membuka akses pembiayaan bagi para pelaku usaha kelautan berskala mikro dan kecil, seperti nelayan pesisir, petani garam, pembudidaya rumput laut, serta koperasi-koperasi yang bergerak di sektor kelautan,” kata co-founder DanaLaut, Niko Ariansyah.
Sepanjang 2018, DanaLaut telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp 1 miliar di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara sebagai titik awal. Beberapa daerah yang difasilitasi antara lain, Evu, Letvuan, Satean, Hoat, dan Faan.
Pencapaian tersebut merupakan langkah awal bagi DanaLaut untuk terus membangun sektor ekonomi kelautan Indonesia di tahun-tahun selanjutnya.
Tahun 2019 ini, DanaLaut menargetkan 150 proyek pendanaan. Diharapkan melalui pembiayaan ini mampu menciptakan sebuah ekosistem bidang kelautan yang menjamin keberlangsungan usaha semua pihak.
“Laut Indonesia memiliki potensi besar, sumber daya manusianya ada. Yang dibutuhkan saat ini adalah modal, konsistensi, dan dukungan ekosistem. Inilah alasan DanaLaut hadir,” kata Niko.
DanaLaut pun membuka kesempatan bagi siapapun untuk berpartisipasi dalam membangun sektor ekonomi kelautan. “Masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha punya tanggung jawab yang sama. Bersama DanaLaut, kita bahu-membahu mengelola laut Indonesia dan menjadi poros maritim dunia, sesuai dengan apa yang telah dicanangkan oleh Pemerintah,” kata Niko.
DanaLaut merupakan perusahaan teknologi finansial di bidang peer to peer (P2P) lending yang berdiri dan beroperasi pada 2018. Terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DanaLaut menjadi satu dari sedikit P2P lending yang fokus pada sektor ekonomi kelautan di Indonesia.*
