2,4 Miliar Orang Tinggal di Negara yang Kekurangan Air

Sistem irigasi tetes yang baru dipasang di Jamaika sangat membantu petani dalam mengatasi kekurangan air akibat perubahan iklim. FOTO: THOMAS GORDON-MARTIN/UNEP

Darilaut –  Sebanyak 2,4 miliar orang saat ini tinggal di negara-negara yang kekurangan air. Banyak negara yang mengalami kekurangan air dan membutuhkan sumber daya air tawar.

Seperti di Jamaika. Ketika kita berkendara menyusuri jalan berdebu di distrik pedesaan Mount Airy akan melihat lusinan tangki air berwarna hitam, banyak yang terhubung dengan pipa pembuangan ke atap rumah di sekitarnya.

Tangki-tangki itu berukuran tinggi dua meter. Mereka mengumpulkan air hujan dan melalui sistem irigasi tetes, menyalurkannya ke ladang terdekat yang dipenuhi tomat, paprika, dan ubi jalar.

Di daerah yang semakin dilanda kekeringan dan dikaitkan dengan perubahan iklim, tangki-tangki ini telah menjadi sumber penghidupan bagi para petani lokal.

“Semua orang yang saya kenal menghadapi tantangan yang sama yaitu berkurangnya curah hujan dan curah hujan yang sulit diprediksi,” kata petani Althea Spencer, seperti dikutip dari Unep.org.

Memiliki sistem pemanenan air hujan “terasa cukup menyenangkan,” ujarnya.

Pekerjaan di Mount Airy tersebut didukung oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

Hal ini merupakan bagian dari dorongan masyarakat di seluruh dunia untuk mengelola air secara lebih berkelanjutan dan menemukan sumber air baru, sebuah upaya yang melibatkan segala hal mulai dari pemurnian limbah hingga penyemaian awan.

Upaya-upaya tersebut didorong oleh apa yang menurut para ahli akan terjadi krisis air global, yang sebagian disebabkan oleh perubahan iklim, yang dapat menyebabkan dua pertiga umat manusia menghadapi kekurangan air pada tahun depan.

Kepala Cabang Kelautan dan Air Tawar UNEP, Leticia Carvalho, mengatakan, kelangkaan air telah menjadi masalah penting bagi semakin banyak negara.

Oleh karena itu, kata Carvalho, negara-negara di seluruh dunia harus lebih kreatif dalam mengelola, melestarikan, dan mengamankan sumber air di tahun-tahun mendatang.

“Menggunakan sumber air non-konvensional secara bijak dan selaras dengan alam akan sangat penting untuk mempercepat kemajuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” ujarnya.

Keamanan air diharapkan menjadi agenda ketika para pemimpin bertemu di Nairobi, Kenya bulan depan untuk sesi keenam Majelis Lingkungan Hidup PBB (UN Environment Assembly) — badan pengambil keputusan tingkat tertinggi di dunia mengenai isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan.

Saat ini, 2,4 miliar orang tinggal di negara-negara yang kekurangan air, yang didefinisikan sebagai negara-negara yang menggunakan 25 persen atau lebih sumber daya air tawar terbarukan untuk memenuhi kebutuhan air.

Daerah yang terkena dampak paling parah adalah Asia Selatan dan Tengah, serta Afrika Utara, di mana situasinya dianggap kritis. Bahkan negara-negara dengan infrastruktur yang sangat maju, seperti Amerika Serikat, mengalami penurunan permukaan air hingga mencapai rekor terendah.

Seiring dengan perubahan iklim, krisis ini juga dipicu oleh urbanisasi yang tidak terkendali, pertumbuhan penduduk yang pesat, polusi dan pengembangan lahan.

Kekurangan air telah mempengaruhi segala hal mulai dari ketahanan pangan hingga keanekaragaman hayati. Kekurangan air tersebut di tahun-tahun mendatang akan menjadi lebih umum.

Pada tahun 2025, diperkirakan sebanyak 1,8 miliar orang akan menghadapi apa yang disebut oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sebagai “kelangkaan air mutlak” dan dua pertiga populasi global diperkirakan akan bergulat dengan kekurangan air.

Exit mobile version