Prof. Dante mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan abu vulkanik dan partikulat, antara lain dengan membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara belum baik.
“Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Khusus kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta masyarakat dengan penyakit tertentu, meminimalkan aktivitas di luar ruangan.
Abu Vulkanik di Sekitar Pemukiman dan Jalan
Meskipun aktivitas sehari-hari masyarakat mulai berjalan, debu vulkanik masih ditemukan di sekitar permukiman dan jalanan. Debu yang telah mengendap juga dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau terangkat oleh kendaraan yang melintas.
Merespons kondisi tersebut, Yayasan Bumi Tangguh (YBT) menyalurkan sebanyak 5.000 masker kepada masyarakat terdampak di Desa Way Muli Timur dan Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Ketua Yayasan Bumi Tangguh, Dennie Mamonto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen YBT untuk melindungi masyarakat dan memperkuat ketangguhan mereka dalam menghadapi bencana.
“Kegiatan ini merupakan pelaksanaan salah satu misi Yayasan Bumi Tangguh, yaitu berperan aktif dalam pengurangan risiko, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana untuk memperkuat ketangguhan masyarakat. Kami berharap bantuan masker ini dapat membantu mengurangi risiko kesehatan masyarakat yang masih harus menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah paparan debu vulkanik,” ujar Dennie.




