Menurut Wahyu, media tidak menutup mata terhadap keresahan masyarakat saat ini mengenai kredibilitas informasi di ruang digital.
Di tengah kondisi “banjir informasi”, masyarakat justru sering kali merasa bingung dan takut dalam menentukan informasi mana yang benar-benar dapat dipercaya dan dijadikan rujukan.
Ketua Umum AMSI menyetujui pendapat rektor UAJY, bahwa kampus merupakan pusat pengetahuan, karena memiliki para ahli, peneliti, dan guru besar yang mendedikasikan diri pada berbagai bidang ilmu.
Namun, harus diakui bahwa selama ini distribusi produk pemikiran kampus masih sangat terbatas pada komunitas akademik, misalnya terbit di jurnal ilmiah.
Di sisi lain, kata Wahyu, masyarakat awam di luar kampus sangat “haus” akan informasi berbasis riset. Mereka membutuhkan jawaban atas persoalan nyata, mulai dari solusi pengelolaan sampah, isu lingkungan, hingga dampak hancurnya biodiversitas terhadap kehidupan sehari-hari.
Jawaban-jawaban tersebut sebenarnya ada di dalam kampus, namun sering kali tidak utuh tersampaikan ke ruang publik.
“AMSI memiliki anggota lebih dari 500 media online di 28 provinsi. Kami berharap AMSI dapat menjadi jembatan yang menyambungkan kekayaan informasi dari kampus kepada masyarakat luas,” ujar Wahyu.
UAJY dan AMSI berkomitmen untuk menjadikan kolaborasi ini sebagai model percontohan bagi kerja sama dengan komunitas akademik lain di berbagai daerah.




