Antisipasi Bencana Hidrometeorologi Kemenhub Terbitkan Maklumat Pelayaran

Ilustrasi. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi Kementerian Perhubungan menerbitkan maklumat pelayaran jika terjadi cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Jakarta, Selasa (13/10), telah menginstruksikan kepada jajaran Ditjen Perhubungan Laut melakukan upaya antisipasi tersebut.

Ditjen Perhubungan Laut, yaitu di Direktorat Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) dan Kenavigasian, Distrik Navigasi, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan di seluruh Indonesia.

Selain menerbitkan maklumat pelayaran, antisipasi lainnya adalah mengoptimalkan tim respons cepat Ditjen Perhubungan Laut terkait kesiapsiagaan tanggap darurat.

Kemudian mengoptimalkan sarana bantu navigasi pelayaran dan telekomunikasi pelayaran melalui Vessel Traffic System (VTS), berkoordinasi dengan Basarnas, serta menyiagakan kapal patroli.

Kemenhub melalui Ditjen Perhubungan laut melakukan integrasi sistem sensor penerima peringatan atau sensor warning receiver system new generation yang dipasang di VTS pada pelabuhan-pelabuhan yang rawan Tsunami.

Penempatan alat penerima peringatan tersebut dipasang di beberapa pelabuhan seperti di Bakauheni, Bali, Ambon, Teluk Bayur dan Marine Command Center (MCC) yang berada di kantor Pusat Kemenhub Jakarta.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena La Nina akan menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia. Diperkirakan curah hujan akan naik 20 sampai 40 persen di atas normal.

Kemenhub melakukan upaya antisipasi menghadapi bencana hidrometeorologi yang diprediksi BMKG akan terjadi akibat dari adanya peningkatan curah hujan pada bulan depan.

Di sektor udara, Kemenhub telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 47 Tahun 2020 tentang Kegiatan Penerbangan pada Kondisi Weather Minima. Weather minima yaitu suatu kondisi visibiltas atau jarak pandang yang terbatas karena faktor cuaca.

SE tersebut ditujukan kepada penyelenggara angkutan udara, bandar udara, navigasi penerbangan, dan pelayanan informasi meteorologi penerbangan.

Kemenhub telah memetakan dan melakukan upaya antisipasi di 15 bandara yang berlokasi di daerah rawan tsunami seperti Bandara Binaka Gunung Sitoli, Minangkabau, Ngurah Rai dan Balikpapan. Kemudian Bandara Mamuju, Luwuk, Ende, Maumere, Melongguane, Ternate, Weda, Buli, Ambon, Manokwari dan Biak.

Exit mobile version