Apakah Dunia Kini Mengalami Lebih Banyak Gempa Bumi?

GAMBAR: AL JAZEERA

Darilaut – Tiga gempa bumi dahsyat mengguncang Indonesia (15 Agustus), Kolombia (10 Agustus) dan Meksiko (17 Juli).

Dalam satu bulan terakhir, tiga gempa bumi berkekuatan magnitudo 7 atau lebih tersebut telah menewaskan ratusan orang. Pada bulan Juni, dua gempa dahsyat yang terjadi hanya berselang beberapa detik meratakan sebagian wilayah Venezuela utara.

Rentetan bencana ini memicu pertanyaan yang kerap muncul setelah serangkaian gempa besar: Apakah Bumi kini lebih sering berguncang dibandingkan masa lalu?

Al Jazeera menelaah data gempa bumi selama satu dekade untuk melihat perbandingannya dengan tahun 2026, serta menjelaskan bagaimana dan di mana gempa bumi terjadi.

10 Gempa Bumi Terbesar Tahun 2026

Menurut The United States of Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat, terdapat sekitar 20.000 gempa bumi yang tercatat secara global setiap tahunnya, atau rata-rata 55 gempa per hari. Namun, sebagian besar gempa tersebut terlalu lemah untuk dirasakan oleh manusia.

Kerusakan berskala besar cenderung terjadi ketika gempa bumi mencapai magnitudo 6 atau lebih.

GAMBAR: AL JAZEERA

Peta menampilkan 10 gempa bumi terbesar tahun 2026. Filipina mencatat gempa terkuat, yakni magnitudo 7,8 di lepas pantai Mindanao pada bulan Juni yang menewaskan lebih dari 100 orang. Gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 di Venezuela, yang juga terjadi pada bulan Juni, menewaskan lebih dari 6.300 orang. Gempa-gempa terbaru—di Meksiko pada bulan Juli serta Kolombia dan Indonesia pada bulan Agustus—semuanya berkekuatan magnitudo 7,4 atau lebih tinggi.

Data Gempa Bumi Selama 10 Tahun dan Posisi Tahun 2026

Dari tahun 2016 hingga 2025, dunia mencatat rata-rata 133 gempa bumi dengan magnitudo 6 atau lebih besar setiap tahunnya. Jumlahnya berkisar dari angka terendah sebanyak 99 gempa pada tahun 2024 hingga angka tertinggi sebanyak 157 gempa pada tahun 2021.

Hingga pertengahan Agustus tahun ini, tercatat 91 gempa bumi dengan magnitudo 6 atau lebih di seluruh dunia, termasuk 11 gempa dengan magnitudo di atas 7. Kedua angka tersebut sedikit melampaui laju rata-rata dalam satu dekade terakhir, namun masih berada dalam kisaran normal. Tidak ada satu pun gempa yang mencapai magnitudo 8 atau 9, yang merupakan kategori paling merusak.

Faktor yang membuat gempa bumi mematikan lebih bergantung pada lokasi kejadiannya daripada besaran magnitudonya. Kedalaman pusat gempa, jarak ke pusat kota, dan ketahanan bangunan setempat lebih menentukan dampaknya dibandingkan angka pada skala Richter. Gempa bumi paling mematikan dalam satu dekade terakhir bukanlah gempa dengan magnitudo terbesar, melainkan gempa yang terjadi tepat di bawah kawasan padat penduduk.

Apakah Ada ‘Musim Gempa’?

Tidak. Catatan jangka panjang menunjukkan bahwa gempa bumi terjadi sepanjang tahun tanpa pola musiman yang konsisten. USGS menyatakan bahwa para ilmuwan belum pernah bisa memprediksi kapan gempa besar akan terjadi karena tekanan tektonik yang menumpuk di sepanjang garis sesar selama berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun tidak dapat dikaitkan dengan siklus 12 bulan.

Gempa susulan dapat terus terjadi selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah gempa besar.

Alih-alih memprediksi kejadian gempa secara spesifik, ahli seismologi menghitung probabilitas terjadinya gempa besar di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu; analisis ini menjadi dasar bagi penyusunan standar bangunan yang dapat menyelamatkan nyawa. Mereka juga mengoperasikan sistem peringatan dini yang memberi tahu masyarakat segera setelah gempa mulai terjadi.

Bagaimana Gempa Bumi Terjadi?

Secara sederhana, gempa bumi terjadi ketika kerak Bumi berguncang.

Lapisan luar Bumi terpecah menjadi kepingan-kepingan yang bergerak layaknya potongan teka-teki, yang disebut lempeng tektonik, dengan ketebalan sekitar 100 km (62 mil). Lempeng-lempeng ini berada di atas batuan mantel panas yang bersifat padat namun mengalir perlahan, yang menarik serta mendorong lempeng-lempeng tersebut selama jutaan tahun.

Lempeng-lempeng ini senantiasa bergerak, namun tepiannya sering kali saling mengunci dan mengakumulasi tekanan hingga batuan tersebut akhirnya patah di sepanjang retakan yang disebut sesar (patahan). Sesar ini bisa membentang hingga ratusan kilometer.

Banyak sesar telah dipetakan dengan baik, namun ada pula yang baru diketahui keberadaannya saat terjadi patahan atau pergerakan.

Di Mana Gempa Bumi Terjadi?

Zona paling aktif secara seismik di dunia—yang mencakup sekitar 90 persen dari total gempa bumi global—adalah Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Zona ini membentuk sabuk yang membentang dari wilayah barat benua Amerika hingga Timur Jauh Rusia, lalu turun ke Asia Tenggara dan Selandia Baru.

Cincin Api ini mencakup wilayah Jepang, Filipina, dan Indonesia.

Gempa bumi juga dapat terjadi di luar wilayah Cincin Api. Sabuk Alpide, yang membentang dari Jawa melewati pegunungan Himalaya hingga Turki dan wilayah Mediterania, menghasilkan 17 persen dari gempa-gempa terbesar di dunia; selain itu, gempa yang lebih jarang terjadi juga bisa muncul di sepanjang sesar kuno yang letaknya jauh dari batas lempeng.

Bagaimana Gempa Bumi Diukur?

Besaran gempa bumi diukur menggunakan skala magnitudo momen, yang mencerminkan energi yang dilepaskan dari sumber gempa.

Nilai magnitudo didasarkan pada skala logaritmik; artinya, setiap kenaikan satu angka bulat mewakili guncangan tanah yang kira-kira 10 kali lebih kuat dan pelepasan energi yang sekitar 32 kali lebih besar.

Sebagai gambaran, gempa dengan magnitudo 4 hingga 4,9 dikategorikan sebagai gempa ringan, namun tetap dapat menyebabkan kerusakan tertentu.

Gempa bermagnitudo 5 menghasilkan guncangan tanah 10 kali lebih kuat dibandingkan gempa bermagnitudo 4, melepaskan energi sekitar 32 kali lebih besar, serta dapat menyebabkan kerusakan tingkat sedang pada bangunan.

Gempa bermagnitudo 6 umumnya dikategorikan sebagai gempa kuat; gempa ini menghasilkan guncangan tanah 100 kali lebih kuat dibandingkan gempa bermagnitudo 4 dan melepaskan energi sekitar 1.000 kali lebih besar.

Gempa bermagnitudo 7 dikategorikan sebagai gempa besar yang berpotensi menyebabkan hilangnya banyak nyawa serta kerusakan parah pada bangunan dan infrastruktur. Gempa bumi dengan magnitudo 8 atau lebih diklasifikasikan sebagai gempa dahsyat dan dapat menyebabkan kehancuran yang hampir total di wilayah yang luas.

Magnitudo, kedalaman, jarak dari wilayah berpenghuni, kondisi tanah, serta kemungkinan memicu bencana sekunder—seperti tsunami dan tanah longsor—hanyalah beberapa dari sekian banyak faktor yang menentukan tingkat daya rusak dan dampak mematikan suatu gempa bumi.

Gempa Bumi Terbesar yang Pernah Tercatat

Gempa bumi paling dahsyat yang pernah tercatat adalah gempa bermagnitudo 9,5 yang melanda Valdivia, Chili, pada 22 Mei 1960, yang memicu tsunami di seluruh wilayah Samudra Pasifik.

GAMBAR: AL JAZEERA

Empat tahun kemudian, gempa bermagnitudo 9,2 melanda wilayah Prince William Sound di Alaska; ini merupakan gempa terkuat kedua yang pernah tercatat.

Pada 26 Desember 2004, gempa bermagnitudo 9,1 hingga 9,3 yang terjadi di lepas pantai Sumatra memicu tsunami yang menewaskan sekitar 228.000 orang di berbagai wilayah di sekitar Samudra Hindia.

Sumber: Al Jazeera

Exit mobile version