Di Kalimantan Tengah tercatat 130 titik, naik dari 65 titik; Sumatera Selatan: 91 titik, naik dari 59 titik;
Kalimantan Barat: 59 titik, naik dari 15 titik; Jambi: 9 titik; dan Kalimantan Selatan: 5 titik, turun dari 9 titik.
Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat menjadi wilayah yang mendapat perhatian lebih berdasarkan perkembangan pemantauan tersebut.
Di tengah kondisi atmosfer yang masih kering, suhu udara terasa panas. BMKG mencatat suhu udara maksimum di atas 37°C pada sebagian wilayah pada 12-13 Oktober 2026, yaitu di Lampung (38.2°C), Papua Selatan (37,4°C), Kalimantan Selatan (37,4°C), Jawa Barat (37,8°C), dan Jawa Tengah (37,8°C). Ada beberapa faktor yang menyebabkan suhu udara lebih tinggi, antara lain posisi semu matahari yang saat ini berada di selatan ekuator serta tutupan awan yang masih minim.
Hal ini menyebabkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal dan mengakibatkan suhu udara yang cukup tinggi di sebagian besar wilayah indonesia, khususnya bagian selatan.
Di sisi lain, kata BMKG, pengaruh dinamika atmosfer masih memungkinkan terbentuknya awan hujan yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah.
Aktivitas MJO secara spasial bersama dengan Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif, terutama di Sumatera bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.




