Bahaya Guguran Awan panas dan Lontaran Batuan Pijar di Gunung Semeru

Pantauan Gunung Semeru di Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur, Selasa (1/12). MAGMA.ESDM.GO.ID

Darilaut – Potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur, berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak. Material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin.

Potensi ancaman bahaya lainnya berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan dari puncak.

“Jika terjadi hujan dapat terjadi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak,” demikian siaran pers Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa (1/12).

Hasil pengamatan visual PVMBG menunjukkan adanya kenaikkan jumlah gempa guguran dan beberapa kali awan panas guguran. Kenaikkan ini diakibatkan oleh adanya ketidakstabilan kubah lava di bagian puncak.

Dari kegempaan hingga 1 Desember 2020 pukul 06.00 WIB didominasi oleh gempa guguran dan beberapa kali gempa awan panas guguran.

Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Semeru masih ditetapkan pada Level II (Waspada). Dalam status Waspada PVMBG merekomendasikan agar masyarakat, pengunjung maupun wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 kilo meter dari kawah atau puncak Gunung Semeru dan jarak 4 kilo meter arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

Selain itu, mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Gunungapi Semeru memiliki tipe strato dengan kubah lava, dengan puncak tertinggi Mahameru 3.676 meter dari permukaan laut.

Aktivitas Gunung Semeru saat ini tedapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru yang terbentuk sejak 1913.

Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, berupa penghancuran kubah/lidah lava, serta pembentukan kubah lava/lidah lava baru. Penghancuran kubah/lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru.

Hasil pemantauan, secara visual, selama 1 Oktober hingga 30 November 2020 gunung api ini terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50 – 500 meter dari puncak.

Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, selatan, barat daya dan barat. Suhu udara sekitar 19-32°C.

Erupsi terjadi menerus, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 500 meter dari atas kawah/puncak. Guguran batuan dari arah puncak terjadi tidak menerus sejak 19 Oktober 2020.

Pada Sabtu 28 November terjadi kenaikan jumlah guguran secara signifikan. Diikuti kejadian awan panas guguran yang berasal dari ujung lidah lava dengan jarak luncur maksimum 1 kilo meter ke sektor tenggara lereng.

Hari ini Selasa (1/12) mulai pukul 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 kilo meter ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru.

Adapun jumlah dan jenis gempa yang terekam selama 1 Oktober hingga 30 November 2020 didominasi Gempa Letusan dengan rata-rata 40 kejadian per hari.

Pada 20 November 2020 jumlah Gempa Letusan cenderung menurun, dan terjadi kenaikan pada jumlah Gempa Guguran.

Gempa Hembusan terjadi rata-rata 10 kejadian per hari, sedangkan gempa-gempa vulkanik (Gempa Vulkanik Dalam, Vulkanik Dangkal, dan Tremor) terekam dengan jumlah sangat rendah.

Exit mobile version